← Kembali ke Beranda Literaism Game

The Last of Us dan Pertanyaan Tentang Moralitas di Ujung Dunia

Redaksi Literaism
WhatsApp Facebook

Redaksi Literaism. (2026). The Last of Us dan Pertanyaan Tentang Moralitas di Ujung Dunia. Literaism. https://literaism.my.id/artikel/post1783738259722

The Last of Us dan Pertanyaan Tentang Moralitas di Ujung Dunia

Ada satu keputusan di akhir game The Last of Us yang sampai sekarang masih bikin orang berantem di kolom komentar dan forum diskusi: keputusan Joel nyelametin Ellie dengan cara ngebantai satu fasilitas medis, padahal itu artinya harapan buat nemuin vaksin virus cordyceps ikut lenyap bareng darah yang ditumpahin. Ini bukan cuma adegan aksi dramatis di akhir cerita, tapi jadi salah satu dilema moral paling dibahas dalam sejarah video game modern. The Last of Us berhasil bikin pemain ngerasain langsung beratnya nentuin siapa yang berhak hidup dan siapa yang harus dikorbankan, di dunia yang udah kehilangan hampir semua struktur moral konvensional.

Trolley Problem Versi Apokalips Zombie

Banyak kritikus dan akademisi ngebandingin keputusan Joel dengan trolley problem, eksperimen pemikiran klasik dalam filsafat yang pertama kali dirumuskan Philippa Foot tahun 1967. Versi dasarnya sederhana: ada kereta yang bakal nabrak lima orang, dan lo punya tuas buat ngalihin kereta itu ke jalur lain yang cuma ada satu orang. Pertanyaannya, apakah lo bakal narik tuas itu untuk mengorbankan satu nyawa demi nyelametin lima nyawa lainnya?

Di The Last of Us, skenarionya dibikin lebih personal dan menyakitkan. Fireflies, kelompok pemberontak yang ngerawat Ellie, yakin mereka bisa bikin vaksin dari jaringan otaknya, tapi prosedur itu bakal membunuh Ellie. Joel dihadapin sama pilihan: biarin Ellie mati demi kemungkinan nyelametin jutaan orang di seluruh dunia, atau selamatin Ellie dan ngorbanin harapan seluruh umat manusia buat sembuh dari wabah. Yang bikin dilema ini beda dari trolley problem versi buku teks adalah satu hal krusial: Ellie sendiri, orang yang nyawanya lagi dipertaruhkan, nggak pernah dikasih kesempatan buat nyuarain pendapatnya. Keputusan itu sepenuhnya diambil alih Joel, tanpa persetujuan dari orang yang paling terdampak.

Utilitarianisme Marlene Lawan Cinta yang Egois Ala Joel

Kalau ditarik ke kerangka etika yang lebih formal, Marlene, pemimpin Fireflies, merepresentasikan pandangan utilitarian klasik: tindakan yang benar adalah tindakan yang menghasilkan kebaikan terbesar buat jumlah orang terbanyak. Dari sudut pandang ini, mengorbankan satu nyawa Ellie demi kemungkinan menyelamatkan sisa umat manusia adalah kalkulasi moral yang rasional, bahkan kalau itu berarti nyakitin diri sendiri secara emosional. Marlene digambarkan sebagai pemimpin yang sanggup bikin keputusan sulit demi kebaikan bersama, bukan lagi berperan sebagai individu yang punya keterikatan personal.

Joel jelas beroperasi di kerangka moral yang beda sama sekali. Keputusannya nggak didasarin kalkulasi untung-rugi buat umat manusia, tapi didorong murni oleh cinta dan ikatan personal yang dia bangun sama Ellie sepanjang perjalanan mereka. Ini yang bikin sebagian kritikus nyebut keputusannya sebagai bentuk "favoritisme" yang secara filosofis bisa dipertahankan bahwa manusia memang secara alami dan sah punya kewajiban moral lebih besar terhadap orang-orang terdekat mereka, dibanding terhadap massa abstrak yang nggak pernah mereka temui langsung. Tapi di sisi lain, tindakan Joel juga jelas melanggar hak Ellie buat menentukan nasibnya sendiri. Dia bohong soal apa yang sebenarnya terjadi, dan mengambil keputusan besar itu tanpa pernah nanya apa yang Ellie mau.

Ketika Sekuelnya Bikin Moralitas Makin Kabur

The Last of Us Part II ngambil dilema ini dan bikinnya makin ruwet. Alih-alih ngasih jawaban jelas soal siapa yang benar dan siapa yang salah, sekuelnya justru nunjukkin konsekuensi berantai dari keputusan Joel, gimana satu tindakan yang didasarin cinta bisa memicu siklus balas dendam yang menghancurkan banyak kehidupan lain, termasuk kehidupan Ellie sendiri. Analisis akademis terhadap game dan serial TV-nya nyoroti gimana game aslinya secara sengaja "menolak pilihan" di akhir cerita, pemain nggak dikasih opsi buat milih jalan lain, dipaksa ngejalanin keputusan Joel meskipun secara moral meragukan.

Yang bikin The Last of Us istimewa adalah dia nggak berusaha nyederhanain dilemanya jadi hitam putih. Cerita ini justru ngajak audiens buat duduk dengan ketidaknyamanan itu, ngerasain langsung gimana rasanya nggak ada jawaban yang benar-benar bersih dari konsekuensi buruk. Dunia yang udah runtuh secara sosial ini jadi laboratorium moral yang jujur: begitu struktur hukum dan otoritas konvensional lenyap, manusia dipaksa balik ke insting paling dasar, cinta, rasa takut, dan naluri buat melindungi orang-orang terdekat, meskipun itu berarti mengorbankan prinsip moral yang lebih besar.

Kenapa Dunia yang Hancur Justru Bikin Kita Makin Ngerti Soal Manusia

Ironisnya, justru di tengah dunia yang udah kehilangan hampir semua institusi moralnya, The Last of Us berhasil ngasih refleksi paling jujur soal gimana manusia sebenarnya bikin keputusan etis. Bukan lewat kalkulasi rasional yang steril, tapi lewat emosi, ikatan personal, dan insting yang seringkali kontradiktif sama prinsip moral abstrak yang kita anut di atas kertas. Cerita ini nggak nyoba ngeyakinin penonton bahwa Joel benar atau salah, dia cuma nunjukkin, dengan jujur dan tanpa filter, gimana rumitnya jadi manusia ketika dihadapin sama pilihan yang nggak punya jawaban benar. Dan mungkin justru di situlah letak kekuatan cerita ini: dia nggak ngasih kita jawaban, tapi ngajarin kita buat lebih rendah hati sebelum ngejustifikasi keputusan orang lain di situasi yang kita sendiri belum pernah alamin.

Referensi:

- MovieMaker Magazine, "That Last of Us Season 1 Finale Offers a Bogus Trolley Problem That Isn't That Complicated"

- Joys and Passions, "The Last of Us Part II Series: The Last of Us and Utilitarianism"

- Irwin, D. & Irwin, W. "A Defense of Love and Favoritism in The Last of Us." The Last of Us and Philosophy (Blackwell Philosophy and Pop Culture Series)

- Inverse, "Is Joel a Good Person? The Complicated Ethics of 'The Last of Us'"

- University of Colorado Honors Journal, "Theme, Narrative, and Adaptational Philosophy in The Last of Us"

Komentar (0)

Baca Tulisan Kami Lainnya