← Kembali ke Beranda Literaism Film

Melihat Obsession (2026) Lewat Kacamata Psikologi: Saat Cinta Tak Lagi Tentang Memilih

Muhammad Rendy Hidayat
WhatsApp Facebook

Muhammad Rendy Hidayat. (2026). Melihat Obsession (2026) Lewat Kacamata Psikologi: Saat Cinta Tak Lagi Tentang Memilih. Literaism. https://literaism.my.id/artikel/post1783184833308

Melihat Obsession (2026) Lewat Kacamata Psikologi: Saat Cinta Tak Lagi Tentang Memilih

Kalau ditanya apa yang paling menyeramkan dari Obsession (2026), jawabannya mungkin bukan adegan berdarah atau unsur supranatural yang muncul sepanjang cerita. Justru yang terasa paling mengganggu adalah sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: rasa ingin dicintai. Film ini seolah mengingatkan bahwa ketakutan terbesar manusia sering kali bukan datang dari makhluk asing, melainkan dari emosinya sendiri. Ketika cinta kehilangan batas, ia bisa berubah menjadi obsesi yang perlahan menghapus logika.

Sinopsis

Disutradarai oleh Curry Barker, Obsession mengikuti kisah Bear, seorang pria yang sudah lama memendam perasaan kepada sahabatnya, Nikki. Selama bertahun-tahun ia memilih diam karena takut ditolak. Sampai akhirnya ia mengambil jalan yang terdengar sederhana, tetapi membawa konsekuensi mengerikan: membuat permintaan agar Nikki mencintainya. Keinginan itu memang terkabul, tetapi bukan dalam bentuk yang ia harapkan. Nikki berubah menjadi sosok yang rela melakukan apa saja demi Bear. Cintanya bukan lagi lahir dari pilihan, melainkan dari dorongan yang tidak bisa ia kendalikan.

Karakter Bear dalam film Obsession (2026)
Karakter Bear dalam film Obsession (2026)

Di sinilah film mulai menarik jika dilihat dari sudut pandang psikologi. Hubungan yang sehat selalu dibangun atas dasar kebebasan untuk memilih. Seseorang bisa mencintai, tetapi ia juga memiliki hak untuk berkata tidak. Ketika kebebasan itu hilang, hubungan tidak lagi berdiri di atas kasih sayang, melainkan kontrol. Nikki memang terus berada di sisi Bear, tetapi ia tidak lagi memiliki kehendak atas dirinya sendiri. Yang tersisa hanyalah dorongan untuk memenuhi kebutuhan orang lain.

Limerence Sebagai Kondisi Psikologi

Kondisi Bear sendiri menggambarkan fenomena yang dalam psikologi dikenal sebagai limerence. Istilah yang diperkenalkan psikolog Dorothy Tennov ini menjelaskan keadaan ketika seseorang mengalami ketertarikan romantis yang sangat intens hingga pikirannya dipenuhi oleh satu orang saja. Orang yang mengalami limerence biasanya terus membayangkan kemungkinan bersama orang yang disukai, mengartikan perhatian kecil sebagai tanda cinta, lalu menggantungkan kebahagiaannya pada balasan perasaan tersebut. Perasaan seperti ini memang umum terjadi, terutama saat jatuh cinta. Namun, ketika seluruh hidup mulai berputar hanya pada satu orang, kondisi itu dapat berkembang menjadi obsesi.

Film ini menunjukkan hal tersebut secara perlahan. Bear sebenarnya tidak benar-benar mengenal Nikki sebagai individu yang utuh. Ia lebih banyak mencintai bayangan tentang Nikki yang sudah ia bangun di dalam kepalanya. Dalam psikologi sosial, kondisi ini disebut idealisasi, yaitu kecenderungan melihat seseorang sebagai sosok sempurna sambil mengabaikan kenyataan bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Ketika seseorang lebih mencintai imajinasinya daripada realitas, hubungan yang tercipta menjadi rapuh karena dibangun di atas ekspektasi, bukan penerimaan.

Pola Attachement Dalam Film Obsession

Aspek lain yang menarik adalah bagaimana film ini menggambarkan pola attachment atau keterikatan emosional. John Bowlby dan Mary Ainsworth menjelaskan bahwa pengalaman hubungan sejak kecil dapat membentuk cara seseorang menjalin relasi ketika dewasa. Salah satu pola yang sering dibahas adalah anxious attachment, yaitu kecenderungan merasa takut ditinggalkan, selalu membutuhkan kepastian, dan sulit menerima penolakan. Walaupun latar belakang Bear tidak dijelaskan secara detail, perilakunya memperlihatkan ciri-ciri tersebut. Ia tidak mampu menerima bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan memiliki. Akibatnya, ia memilih jalan yang justru menghilangkan kebebasan orang yang ia cintai.

Yang membuat Obsession terasa berbeda dari film horor biasa adalah karena ancamannya bersifat emosional. Penonton dibuat tidak nyaman bukan hanya karena apa yang dilakukan Nikki, tetapi karena menyadari bahwa semua itu bermula dari keinginan yang sebenarnya sangat manusiawi. Siapa pun tentu ingin dicintai. Masalah muncul ketika kebutuhan itu berubah menjadi ketergantungan. Saat seseorang merasa hidupnya hanya akan bahagia jika mendapatkan satu orang tertentu, ia mulai kehilangan kemampuan menerima kenyataan.

Fenomena Sosial Yang Kerap Terlihat

Fenomena seperti ini sebenarnya tidak hanya hidup di layar lebar. Dalam kehidupan sehari-hari, bentuknya bisa jauh lebih halus. Ada orang yang terus menghubungi mantan meski sudah diminta berhenti, memeriksa ponsel pasangan setiap saat karena takut diselingkuhi, atau menganggap rasa cemburu berlebihan sebagai bukti cinta. Padahal, berbagai penelitian psikologi menunjukkan bahwa hubungan yang sehat justru dibangun melalui rasa saling percaya, komunikasi yang terbuka, dan penghormatan terhadap batasan pribadi. Cinta bukan tentang menguasai seseorang, melainkan memberi ruang agar kedua belah pihak tetap bisa berkembang sebagai individu.

Di titik inilah Obsession terasa seperti kritik terhadap cara kita memandang romansa. Budaya populer sering menggambarkan kegigihan mengejar seseorang sebagai sesuatu yang romantis. Tokoh utama yang tidak menyerah setelah berkali-kali ditolak sering dianggap sebagai simbol cinta sejati. Padahal dalam kehidupan nyata, menghormati keputusan orang lain jauh lebih penting daripada memaksakan keinginan sendiri. Penolakan bukan selalu berarti kita kurang berharga, tetapi bagian dari hak setiap orang untuk menentukan dengan siapa ia ingin menjalani hubungan.

Obsesi Bisa Tumbuh Dari Emosi

Pada akhirnya, horor terbesar dalam Obsession bukanlah unsur supranatural yang menjadi pemicu cerita, melainkan kenyataan bahwa obsesi bisa tumbuh dari emosi yang awalnya tampak wajar. Film ini mengingatkan bahwa cinta tanpa kebebasan bukanlah cinta. Ketika seseorang kehilangan hak untuk memilih, hubungan berubah menjadi penjara yang dibungkus atas nama kasih sayang.

Itulah mengapa Obsession lebih dari sekadar film horor. Ia menawarkan refleksi bahwa mencintai seseorang juga berarti menghormati keputusan, batasan, dan kebebasannya. Sebab cinta yang sehat tidak pernah meminta seseorang kehilangan dirinya sendiri. Sebaliknya, ia memberi ruang bagi dua orang untuk tumbuh bersama tanpa harus saling memiliki secara mutlak. Dari sudut pandang psikologi, mungkin di situlah letak perbedaan paling mendasar antara cinta dan obsesi.

Komentar (0)

Baca Tulisan Kami Lainnya