← Kembali ke Beranda Literaism Film

Melihat Film Batman V superman: Dawn of Justice (2016) dengan Kacamata Filsafat Teologi

Muhammad Rendy Hidayat
WhatsApp Facebook

Muhammad Rendy Hidayat. (2026). Melihat Film Batman V superman: Dawn of Justice (2016) dengan Kacamata Filsafat Teologi. Literaism. https://literaism.my.id/artikel/post1783263276970

Melihat Film Batman V superman: Dawn of Justice (2016) dengan Kacamata Filsafat Teologi

Gue masih inget sensasi nonton "Batman v Superman: Dawn of Justice" pertama kali. Awalnya kirain bakal nonton dua superhero baku hantam doang, eh ternyata di balik ledakan dan efek CGI-nya, film ini diam-diam nyelipin pertanyaan yang udah bikin manusia pusing selama ribuan tahun: kalau ada makhluk mahakuasa di antara kita, apakah dia layak disembah, ditakuti, atau malah dicurigai? Film ini emang basically nyeritain konflik Batman melawan Superman, tapi kalau ditarik lebih dalam, ini sebenarnya perdebatan filosofis soal manusia melawan sosok yang menyerupai dewa.

Superman sebagai Mesias yang Disalahpahami

Coba perhatiin gimana Superman diperlakukan sepanjang film. Ada yang menyambutnya dengan ekspektasi tinggi dan berlebihan, menganggapnya sebagai mesias yang diutus dari langit, sementara ada juga yang curiga dan takut sama kehadirannya. Pola ini persis banget sama gimana figur-figur religius sepanjang sejarah manusia diperlakukan: sebagian memuja tanpa tanya, sebagian lain menolak karena nggak paham atau ketakutan sama sesuatu yang di luar nalar mereka.

Superman sendiri sebenarnya seorang makhluk luar angkasa yang bisa kita ibaratkan sebagai dewa karena kekuatannya jelas-jelas melampaui manusia biasa. Tapi yang bikin menarik, dia nggak pernah minta disembah. Dia cuma pengin nolong, walau caranya sering disalahartikan publik. Ironisnya, semakin dia berusaha menyelamatkan manusia, semakin besar juga rasa curiga yang muncul, seolah manusia memang punya kecenderungan buat takut sama kekuatan yang nggak bisa mereka kendalikan, meskipun kekuatan itu datang dengan niat baik.

Problem of Evil ala Lex Luthor

Nah, ini bagian paling filosofis dari seluruh film. Lex Luthor, si antagonis licik, ngelontarin argumen klasik yang di dunia filsafat teologi disebut problem of evil atau masalah kejahatan. Intinya begini: kalau memang ada Tuhan yang mahakuasa dan mahabaik, kenapa kejahatan dan penderitaan masih ada di dunia? Kalau Tuhan mahakuasa tapi membiarkan kejahatan terjadi, berarti dia nggak sepenuhnya baik. Tapi kalau Tuhan baik namun nggak bisa menghentikan kejahatan, berarti dia nggak benar-benar mahakuasa.

Luthor make argumen ini buat ngedorong logika bahwa Superman, sebagai sosok yang dipandang setara dewa, nggak bisa sekaligus mahakuasa dan sepenuhnya baik. Dialog ini bukan cuma bumbu drama, tapi cerminan dari perdebatan teologi yang udah ada sejak filsuf Yunani kuno sampai pemikir modern. Yang bikin makin dalam, Luthor sendiri direpresentasikan sebagai sosok yang di kehidupan nyata bisa aja terlihat baik, misalnya lewat sumbangan atau proyek amal, padahal motivasinya jauh dari tulus. Ini nyindir gimana kebaikan yang terlihat di permukaan kadang cuma topeng buat kepentingan yang lebih gelap.

Batman: Manusia yang Menolak Tunduk pada Dewa

Kalau Superman jadi representasi sosok ilahi, Batman justru jadi simbol keraguan manusia yang menolak tunduk begitu saja. Sang ksatria hitam ini didefinisikan sebagai pengawas dan pelindung Gotham, seorang penegak hukum dengan caranya sendiri, bukan pahlawan yang dipuja layaknya dewa. Batman melihat Superman bukan sebagai penyelamat, melainkan sebagai ancaman eksistensial, sosok asing dengan kekuatan tak terbatas yang bisa berubah jadi tiran kapan pun dia mau.

Cara pandang ini sebenarnya nyerempet ke pertanyaan filosofis soal otonomi manusia di hadapan kekuatan yang lebih besar. Batman nggak percaya buta, dia butuh bukti dan kalkulasi sebelum bertindak, sementara Superman lebih spontan dan penuh keyakinan dari dalam dirinya sendiri. Dua sikap ini menggambarkan dua paradigma yang muncul sebagai respons terhadap sesuatu yang di luar kendali manusia, yaitu antara sikap skeptis yang penuh perhitungan melawan sikap percaya yang penuh keyakinan batin. Menariknya, konflik ini nggak selesai lewat debat filosofis, tapi lewat momen manusiawi, ketika Batman sadar bahwa Superman juga punya sisi rapuh yang sama kayak dirinya, sama-sama takut kehilangan orang yang dicintai.

Ketika Kekuatan Fisik Kalah dari Kebijaksanaan

Ada satu pelajaran menarik lain dari pertarungan final melawan Doomsday, monster ciptaan Luthor. Sepanjang film ditunjukkan bahwa mereka yang cuma mengandalkan otot atau kekuatan fisik semata akhirnya bakal kalah oleh mereka yang punya pengetahuan dan strategi. Ini semacam pengingat lembut bahwa kekuatan super sekalipun nggak ada artinya tanpa kebijaksanaan buat menggunakannya secara tepat.

Pada akhirnya, "Batman v Superman" bukan cuma soal siapa yang lebih kuat, tapi soal bagaimana manusia menyikapi kehadiran sesuatu yang melampaui dirinya sendiri. Entah itu dewa, mesias, atau kekuatan besar yang nggak bisa dikendalikan, film ini ngajarin kita buat nggak buru-buru memuja atau menghakimi, tapi mencoba memahami dulu sebelum menyimpulkan siapa sebenarnya yang layak dipercaya.

Komentar (0)

Baca Tulisan Kami Lainnya