← Kembali ke Beranda Literaism Sastra

Menalar Die Philosophie der Erlösung: Ketika Filsuf Menulis Buku Lalu Gantung Diri Malam Itu Juga

Redaksi Literaism
WhatsApp Facebook

Redaksi Literaism. (2026). Menalar Die Philosophie der Erlösung: Ketika Filsuf Menulis Buku Lalu Gantung Diri Malam Itu Juga. Literaism. https://literaism.my.id/artikel/post1783606268623

Menalar Die Philosophie der Erlösung: Ketika Filsuf Menulis Buku Lalu Gantung Diri Malam Itu Juga

Malam tanggal 1 April 1876, di sebuah apartemen kecil di Offenbach, Jerman, seorang filsuf muda bernama Philipp Mainländer menumpuk beberapa kopi pertama buku yang baru aja dia terima dari percetakan, terus make tumpukan buku itu sebagai pijakan buat gantung diri. Buku itu judulnya Die Philosophie der Erlösung, atau Filsafat Penebusan. Ironisnya, atau mungkin justru koherensinya, isi buku itu sendiri ngomongin kenapa ketiadaan lebih baik daripada keberadaan. Mainländer nggak cuma nulis filsafat pesimis, dia beneran ngejalanin kesimpulannya sampai titik akhir.

Dari Anak Pedagang ke Filsuf Paling Radikal Sepanjang Sejarah Pesimisme

Sebelum jadi Mainländer, dia lahir dengan nama Philipp Batz di Offenbach am Main tahun 1841. <cite index="9-1">Dia lahir sebagai anak bungsu dari enam bersaudara, dan salah satu kakaknya mengalami gangguan jiwa, begitu juga kakeknya yang meninggal karena bunuh diri di usia 33 tahun</cite>. Riwayat keluarga yang berat ini bukan cuma catatan kaki biografis, tapi jadi semacam benang merah yang nyambung ke seluruh pemikirannya nanti. Setahun setelah dia masuk sekolah dagang di Dresden atas perintah ayahnya, <cite index="9-1">kakak laki-lakinya, Daniel Batz, bunuh diri, yang makin mengukuhkan riwayat keluarga yang bergulat dengan gangguan mental</cite>.

Titik balik hidupnya terjadi pas dia kerja di rumah dagang di Napoli, Italia. Di sana, meski dia sendiri belakangan nyebut lima tahun di Napoli sebagai masa paling bahagia dalam hidupnya, dia mulai kenal karya-karya sastrawan pesimis Italia kayak Leopardi. Tapi momen paling menentukan justru dateng dari Jerman: perkenalannya sama karya utama Arthur Schopenhauer, "The World as Will and Representation". <cite index="12-1">Ajaran Schopenhauer soal kehendak sebagai kekuatan buta yang nggak pernah puas ini secara mendalam membentuk cara pandang Mainländer terhadap dunia, mendorongnya buat melihat eksistensi lewat kacamata negasi bawaan dan penebusan lewat penolakan hidup</cite>. Sejak saat itu, jalur hidupnya berubah total, dari calon pedagang jadi filsuf yang menghabiskan sisa umurnya mikirin kenapa dunia ini sebaiknya nggak pernah ada.

Kematian ibunya di hari ulang tahunnya yang ke-24 makin memperdalam pergeserannya dari puisi ke filsafat murni. Dia belajar Kant tanpa "diracuni" pemikiran Fichte, Schelling, atau Hegel, tapi justru diperkuat lewat kacamata Schopenhauer. Dari sinilah dia mulai menyusun sistem filsafatnya sendiri, yang meski berangkat dari Schopenhauer, justru berakhir di kesimpulan yang jauh lebih ekstrem daripada gurunya sendiri.

Tuhan yang Bunuh Diri: Inti dari Filsafat Penebusan

“God is dead, and his death was the beginning of the world.”

Ini bagian paling gila sekaligus paling memikat dari sistem Mainländer. Kalau Schopenhauer bilang realitas terdalam dari segala sesuatu itu adalah "kehendak untuk hidup" yang buta dan nggak pernah puas, Mainländer justru membalikkan seluruh logika itu. <cite index="12-1">Dalam kerangka metafisikanya, kosmos berasal dari kesatuan ilahi purba yang disebut Ur-Eins atau Tuhan, eksis dalam keadaan tanpa waktu dan ruang yang bersatu secara mutlak</cite>. Nah, sosok Tuhan yang kesepian ini, karena bosan sama monotonnya eksistensi tunggal yang nggak berujung, akhirnya justru ngerasa jijik sama keberlangsungan dirinya sendiri.

<cite index="12-1">Entitas ini, yang tak terbatas dan berdiri sendiri, dihadapkan sama monotoni abadi dari eksistensi soliternya, sehingga memunculkan keengganan mendalam buat terus ada, dan lahirlah kehendak baru buat mati, kebalikan total dari kehendak untuk hidup versi Schopenhauer</cite>. Tapi karena sifatnya yang nggak terbagi-bagi, Tuhan ini nggak bisa langsung lenyap begitu aja. Satu-satunya jalan buat dia bunuh diri adalah dengan meledakkan dirinya sendiri jadi berkeping-keping, menciptakan ruang dan waktu, materi dan energi, dan akhirnya seluruh alam semesta yang kita tinggali sekarang ini.

The universe is the rotting corpse of a God who killed himself.

Jadi menurut Mainländer, alam semesta yang kita huni ini pada dasarnya adalah mayat yang lagi membusuk dari Tuhan yang udah bunuh diri. <cite index="1-1">Alam semesta adalah bangkai yang membusuk dari seorang Tuhan yang membunuh dirinya sendiri</cite>. Itulah inti dari seluruh sistem filsafatnya. Setiap benda, setiap makhluk hidup, setiap partikel yang ada di dunia ini adalah pecahan kecil dari proses penghancuran diri Tuhan yang masih berlangsung sampai sekarang, dan semuanya, secara nggak sadar, bergerak menuju titik akhir yang sama: ketiadaan total.

Yang bikin ini beda dari nihilisme kosong biasa adalah Mainländer nyebut proses ini sebagai bentuk "penebusan" atau Erlösung. <cite index="14-1">Dia merenungkan masa depan yang menanti umat manusia, meyakinkan bahwa segala kemajuan di masa depan pada akhirnya akan mengarah ke sebuah "Negara Ideal", suatu kondisi di mana semua masalah besar akan terselesaikan secara universal sehingga tercipta semacam surga di bumi</cite>. Tapi ironisnya, justru di titik kesempurnaan itulah manusia bakal ngerasa paling jenuh sama monotoni yang sempurna, sampai akhirnya matang buat menyambut penebusan lewat kepunahan total.

Bukan Ajakan Bunuh Diri, Tapi Kejujuran Radikal Soal Penderitaan

Ini bagian yang sering disalahpahami orang. Banyak yang ngira filsafat Mainländer itu semacam propaganda buat bunuh diri massal, padahal nggak sesederhana itu. <cite index="13-1">Menurut pandangannya, sebagian tindakan bunuh diri, yang dicerahkan oleh Filsafat Penebusan, diarahkan buat memuaskan kehendak esensial untuk mati, akan tetapi filsafatnya secara umum bukanlah seruan untuk bunuh diri</cite>. Dia justru ngritik keras pandangan Schopenhauer yang nganggep bunuh diri sebagai kesalahan moral. <cite index="13-1">Mainländer membedakan antara bunuh diri individu dengan pemahaman filosofis yang lebih luas soal kematian sebagai sesuatu yang inheren dalam eksistensi, sekaligus menawarkan perspektif yang lebih empatik buat mereka yang mempertimbangkan hal itu</cite>.

Sikap ini yang bikin dia beda banget dari gurunya sendiri. <cite index="16-1">Bagi Mainländer, berhentinya keberadaan bukanlah keputusasaan, melainkan pembebasan, sebuah jalan menuju kedamaian sejati</cite>. Dia bahkan mengembangkan semacam etika kasih sayang dari sistem ini. <cite index="16-1">Mainländer melihat tindakan welas asih sebagai keselarasan dengan dorongan alam semesta menuju pembubaran, mengurangi penderitaan orang lain, sementara sikap antinatalismenya, yaitu penolakan terhadap prokreasi, mencerminkan keyakinannya bahwa membawa kehidupan baru ke dunia hanya melanggengkan penderitaan yang nggak perlu</cite>. Jadi kalau ditelusuri lebih jauh, sistem filsafatnya sebenarnya berujung pada gagasan yang cukup manusiawi, jangan menambah beban penderitaan di dunia, bukan gagasan yang menyuruh orang buat cepet-cepet mati.

Yang perlu dicatat juga, kematiannya sendiri terjadi di tengah kondisi yang lebih rumit dari sekadar kesimpulan filosofis murni. Menjelang akhir hidupnya, dia sempat ragu apakah hidupnya masih ada nilainya buat kemanusiaan, sampai mempertimbangkan buat terjun ke gerakan sosial demokrasi Jerman. Sayangnya, rencana-rencana itu nggak pernah kesampaian, dan justru berujung pada malam di mana dia gantung diri di atas tumpukan bukunya sendiri.

Jejak yang Ditinggalkan: Dari Nietzsche sampai Cioran

Kiri Cioran, Kanan Nietzsche
Kiri Cioran, Kanan Nietzsche

Meski selama hidupnya Mainländer nggak pernah jadi nama besar, pengaruhnya justru menyebar diam-diam ke banyak pemikir besar setelahnya. <cite index="8-1">Nietzsche langsung membaca Die Philosophie der Erlösung di tahun yang sama dengan penerbitannya, bahkan sebelum ada review yang muncul, dan karya ini turut berkontribusi pada perpisahan akhir Nietzsche dari filsafat Schopenhauer</cite>. Menariknya, meski Nietzsche kemudian ngomong sinis soal Mainländer di karyanya, benturan pemikiran mereka berdua justru jadi salah satu pemicu lahirnya konsep "kehendak untuk berkuasa" yang jadi ciri khas filsafat Nietzsche sendiri.

Pengaruhnya juga nyebar ke luar dunia filsafat akademik. <cite index="8-1">Alfred Kubin, salah satu pendiri kelompok seni Der Blaue Reiter, menulis bahwa karya ini mengekspresikan pemikirannya yang sesungguhnya dan memperkuat serta menenangkannya, menyebut filsafat ini sebagai penghiburan hidup dan matinya</cite>. Bahkan sastrawan Jepang Akutagawa Ryunosuke sampai nyebut Mainländer secara eksplisit di beberapa karyanya, menandain betapa jauh jejak pemikiran ini menyebar lintas budaya dan benua.

Tapi dari semua nama yang terpengaruh, yang paling relevan buat obrolan kita sebelumnya soal Naked dan Emil Cioran adalah, ya, Cioran sendiri. <cite index="8-1">Emil Cioran sangat terkesan dengan karya Mainländer</cite>. Ini masuk akal banget kalau kita liat gimana keduanya sama-sama nolak filsafat sistematis yang optimis, sama-sama obsesif sama tema penderitaan dan ketiadaan, meski cara penyampaiannya beda, Mainländer lewat sistem metafisika yang runtut, Cioran lewat serpihan aforisme yang lebih personal dan longgar.

Pada akhirnya, yang bikin Die Philosophie der Erlösung tetep dibaca dan didiskusiin sampai sekarang bukan cuma karena kisah tragis kematiannya, tapi karena keberanian filosofisnya buat ngambil satu pertanyaan sederhana, kenapa ada sesuatu ketimbang nggak ada apa-apa, terus ngejalanin jawabannya sampai ke konsekuensi paling ekstrem tanpa kompromi. Buku ini emang gelap banget, bahkan mungkin salah satu sistem pesimisme paling radikal yang pernah ditulis manusia. Tapi di balik kegelapannya, ada semacam kejujuran yang jarang berani diambil filsuf lain: bersedia buat beneran percaya sama kesimpulan sendiri, apapun harganya.

Referensi:

- Gajardo, Paolo. (2023). "The Ontological Suicide of Philipp Mainländer: A Search for Redemption Through Nothingness", Springer Nature Link & Academia.edu

- Beiser, Frederick C. (2016). "Mainländer's Philosophy of Redemption", dalam Weltschmerz: Pessimism in German Philosophy, 1860–1900, Oxford Academic

- Medium, "The Philosopher Who Took His Own Life" oleh Ben Thomas

- Daniel Dashnaw, "Philipp Mainländer, Albert Caraco, and Otto Weininger: A Journey into Existential Pessimism"

Komentar (0)

Baca Tulisan Kami Lainnya