← Kembali ke Beranda Literaism Game

Kenapa Red Dead Redemption 2 Masih Dipuja-Puja? Padahal Banyak Game Baru yang Juga Sama Bagusnya

Muhammad Rendy Hidayat
WhatsApp Facebook

Muhammad Rendy Hidayat. (2026). Kenapa Red Dead Redemption 2 Masih Dipuja-Puja? Padahal Banyak Game Baru yang Juga Sama Bagusnya. Literaism. https://literaism.my.id/artikel/post1783207206389

Kenapa Red Dead Redemption 2 Masih Dipuja-Puja? Padahal Banyak Game Baru yang Juga Sama Bagusnya

Kalau buka media sosial atau forum gaming, pasti ada satu pola yang sering muncul. Begitu ada game open-world baru rilis, kolom komentarnya hampir selalu diisi kalimat seperti, "Detailnya masih kalah sama RDR2," atau "Belum ada yang bisa ngalahin Red Dead Redemption 2." Padahal sejak game itu dirilis pada 2018, industri video game sudah melahirkan banyak judul luar biasa seperti Elden Ring, Cyberpunk 2077 setelah pembaruan besar, Ghost of Tsushima, Kingdom Come: Deliverance II, sampai The Legend of Zelda: Tears of the Kingdom. Semua menawarkan pengalaman yang berbeda dan sama-sama berkualitas.

Lalu muncul pertanyaan yang menarik. Kenapa Red Dead Redemption 2 masih dianggap sebagai patokan? Apa memang belum ada yang bisa menyainginya, atau sebenarnya para pemain hanya sulit melepaskan kenangan mereka terhadap game tersebut?

Bukan Sekadar Dunia yang Luas, tapi Dunia yang Terasa Hidup

Banyak game punya map besar. Bahkan beberapa di antaranya jauh lebih luas daripada dunia di Red Dead Redemption 2. Namun, ukuran ternyata bukan alasan utama kenapa game buatan Rockstar Games ini masih sering dibicarakan.

Yang membuat RDR2 terasa berbeda adalah bagaimana dunianya bereaksi terhadap pemain. Karakter non-pemain punya rutinitas, hewan berperilaku layaknya di alam liar, cuaca memengaruhi lingkungan, dan percakapan kecil yang terjadi di jalan terasa alami. Hal-hal seperti itu memang tidak selalu memengaruhi gameplay secara langsung, tetapi berhasil menciptakan ilusi bahwa dunia tersebut tetap berjalan meskipun pemain sedang tidak melakukan apa-apa. Banyak media saat perilisannya menyebut RDR2 sebagai salah satu pencapaian terbesar dalam desain dunia terbuka karena tingkat detail dan imersi yang belum banyak ditemui di game lain.

Di sinilah letak perbedaannya. Sebagian besar game modern fokus membuat pemain terus bergerak dari satu misi ke misi berikutnya. RDR2 justru sering meminta pemain berhenti sejenak. Naik kuda sambil mendengarkan percakapan, memancing di sungai, atau sekadar duduk di dekat api unggun bukan dianggap membuang waktu, melainkan bagian dari pengalaman bermain.

Bagi sebagian orang, ritme lambat seperti itu memang membosankan. Namun, bagi pemain lain, justru itulah yang membuat mereka merasa benar-benar "tinggal" di dunia tersebut.

Cerita yang Membekas Lebih Lama daripada Gameplay

Kalau ditanya siapa karakter favorit dalam video game, nama Arthur Morgan hampir selalu masuk daftar teratas. Padahal, saat pertama kali diperkenalkan, banyak pemain justru merasa kecewa karena harus meninggalkan John Marston sebagai tokoh utama.

Semua berubah ketika cerita mulai berkembang. Arthur bukan pahlawan yang sempurna. Ia juga bukan penjahat tanpa hati. Sepanjang permainan, pemain melihat bagaimana seseorang yang hidup sebagai buronan perlahan mempertanyakan nilai hidup, kesetiaan, dan arti penebusan dosa. Perjalanan emosional inilah yang membuat banyak orang merasa memiliki hubungan personal dengan karakter tersebut.

Penelitian tentang narasi dalam RDR2 juga menunjukkan bahwa kekuatan utama game ini bukan hanya berasal dari mekaniknya, melainkan dari cara pemain merasa ikut terlibat dalam perjalanan tokohnya. Hubungan emosional itu membuat pengalaman bermain terasa jauh lebih melekat dibanding sekadar menyelesaikan misi.

Karena alasan itu, banyak orang sebenarnya tidak sedang membandingkan kualitas grafis atau gameplay ketika memuji RDR2. Mereka sedang membandingkan perasaan yang mereka alami saat memainkan game tersebut. Dan perasaan seperti itu memang sulit diulang.

Banyak Game yang Lebih Inovatif, tetapi Tidak Mengejar Hal yang Sama

Kalau dilihat secara objektif, RDR2 bukan game tanpa kekurangan. Sampai hari ini masih banyak kritik yang relevan. Kontrol karakter terasa berat, animasi sering terlalu panjang, misi utama cenderung linear, dan kebebasan pemain dalam menyelesaikan tugas tidak sebesar yang dibayangkan. Bahkan beberapa pengulas menilai pendekatan realistis Rockstar kadang membuat permainan terasa melelahkan.

Di sisi lain, banyak game baru justru unggul pada aspek yang berbeda. Elden Ring memberikan kebebasan eksplorasi yang luar biasa. The Legend of Zelda: Tears of the Kingdom menawarkan kreativitas yang hampir tidak memiliki batas. Baldur's Gate 3 membiarkan pemain menentukan jalannya cerita melalui pilihan-pilihan yang benar-benar berpengaruh terhadap dunia permainan.

Artinya, sebenarnya bukan karena game-game tersebut kalah kualitas. Mereka hanya mengejar tujuan yang berbeda. Rockstar ingin menciptakan simulasi kehidupan koboi yang terasa realistis, sedangkan studio lain lebih fokus pada eksplorasi, sistem RPG, atau kebebasan bereksperimen.

Masalahnya, komunitas sering kali membandingkan semuanya dengan standar yang sama. Ketika sebuah game tidak memiliki animasi sedetail RDR2, langsung dianggap kurang bagus. Padahal, belum tentu aspek itu memang menjadi prioritas pengembangnya.

Fenomena ini bahkan mulai disadari oleh banyak pemain di komunitas gaming. Beberapa diskusi di Reddit menunjukkan bahwa kebiasaan membandingkan setiap game baru dengan RDR2 justru membuat penilaian menjadi kurang adil. Tidak semua game ingin menjadi simulasi kehidupan yang sangat realistis, dan itu bukan berarti kualitasnya lebih rendah.

Pada akhirnya, alasan RDR2 masih dipuja-puja bukan karena belum ada game bagus setelahnya. Justru sebaliknya, sekarang ada banyak game luar biasa dengan identitas masing-masing. Yang membuat karya Rockstar tetap dikenang adalah keberhasilannya menghadirkan pengalaman yang sulit digantikan. Dunia yang terasa hidup, karakter yang berkembang secara emosional, serta perhatian terhadap detail menciptakan kesan yang membekas lama di ingatan pemain.

Namun, itu bukan berarti RDR2 adalah jawaban untuk semua standar game open-world. Industri video game terus berkembang, dan setiap studio membawa pendekatan yang berbeda. Ada yang mengejar kebebasan bermain, ada yang fokus pada cerita, ada pula yang mengutamakan mekanik yang inovatif. Semua punya kekuatan masing-masing.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya apakah game baru bisa mengalahkan Red Dead Redemption 2. Pertanyaan yang lebih menarik justru, pengalaman baru apa yang ditawarkan game tersebut sehingga layak dikenang dengan caranya sendiri. Karena pada akhirnya, game terbaik bukan selalu yang paling realistis atau paling detail, melainkan yang berhasil meninggalkan kesan bahkan setelah layar dimatikan.

Komentar (0)

Baca Tulisan Kami Lainnya