← Kembali ke Beranda Literaism Sastra

Notes from Underground: Ketika Kebebasan Justru Jadi Penjara Paling Sunyi

Redaksi Literaism
WhatsApp Facebook

Redaksi Literaism. (2026). Notes from Underground: Ketika Kebebasan Justru Jadi Penjara Paling Sunyi. Literaism. https://literaism.my.id/artikel/post1783503756171

Notes from Underground: Ketika Kebebasan Justru Jadi Penjara Paling Sunyi

Ada novela pendek yang bikin ngerasa ditampar berkali-kali cuma dalam seratus halaman, dan itu "Notes from Underground" atau "Catatan dari Bawah Tanah" karya Fyodor Dostoevsky, terbit pertama kali tahun 1864. Buku ini sering disebut sebagai salah satu karya paling awal dalam tradisi sastra eksistensialis, dan begitu lo baca, lo bakal ngerti kenapa. Tokoh utamanya bukan pahlawan, bukan juga penjahat yang gampang dibenci, tapi seorang mantan pegawai negeri yang pahit, sinis, dan diam-diam kesepian, hidup terisolasi di bawah tanah kota St. Petersburg sambil terus-menerus menyerang logika dan akal sehat yang dipuja masyarakat sezamannya.

Sinopsis Singkat

Source: https://dostoevsky-bts.com/
Source: https://dostoevsky-bts.com/

Novela ini dibagi jadi dua bagian besar. Bagian pertama adalah monolog filosofis panjang dari sang tokoh tanpa nama, di mana dia menyerang habis-habisan gagasan rasionalisme dan egoisme rasional yang lagi populer di kalangan intelektual Rusia waktu itu. Bagian kedua justru berisi rentetan anekdot dari masa lalunya, mulai dari usahanya menyusup ke pesta perpisahan teman lama yang sebenarnya nggak menginginkannya, sampai pertemuannya dengan Liza, seorang perempuan muda yang bekerja di rumah bordil. Dari dua bagian ini, Dostoevsky membangun potret manusia yang terjebak antara keinginan buat dicintai dan kebiasaan menghancurkan setiap kesempatan buat terhubung dengan orang lain.

Perlawanan Terhadap Rasionalisme dan "Crystal Palace"

Yang bikin buku ini istimewa secara filosofis, sang tokoh bawah tanah ini jadi semacam jawaban langsung Dostoevsky terhadap pemikir Rusia bernama Nikolay Chernyshevsky, yang percaya bahwa manusia pada dasarnya cuma menginginkan apa yang menguntungkan dirinya, dan lewat akal sehat, masyarakat bisa diarahkan menuju semacam utopia yang sempurna, disimbolkan lewat gambaran istana kristal. Sang tokoh bawah tanah menolak mentah-mentah gagasan ini. Baginya, kepercayaan buta pada rasionalitas justru mengabaikan sisi paling dasar dari sifat manusia, yaitu kecenderungan buat bertindak irasional dan bahkan merusak diri sendiri.

Novela ini menolak asumsi rasionalis yang jadi fondasi filsafat utilitarianisme ala Jeremy Bentham, dengan menunjukkan bahwa manusia nggak selalu bertindak demi kepentingan terbaiknya sendiri. Justru sebaliknya, sang tokoh berpendapat, kadang manusia sengaja memilih jalan yang merugikan diri sendiri, semata-mata buat membuktikan bahwa dia masih punya kehendak bebas yang nggak bisa diprediksi dan nggak bisa dikendalikan oleh formula matematis mana pun.

Kebebasan Berkehendak: Ketika Sakit Gigi Jadi Bentuk Perlawanan

Source: https://voegelinview.com/
Source: https://voegelinview.com/

Bagian paling terkenal dari argumen sang tokoh bawah tanah soal kehendak bebas ini kelihatan lewat cara dia memandang penderitaannya sendiri. Dia berpendapat bahwa akal cuma memuaskan sisi rasional manusia, sementara kehendak mencerminkan keseluruhan hidup manusia, termasuk seluruh dorongan dan impulsnya, bahkan kalau hidup itu sendiri sering kali nggak berharga. Baginya, hidup yang penuh gejolak dan kadang irasional tetap lebih berarti ketimbang sekadar hidup yang direduksi jadi hitungan matematis belaka.

Contoh paling ekstremnya muncul lewat kebiasaannya menikmati rasa sakit giginya sendiri, alih-alih memeriksakannya ke dokter. Tindakan ini jadi metafora kuat soal bagaimana dia sengaja memilih bertindak irasional dan nggak bisa diprediksi, semata-mata demi menegaskan bahwa dia tetap punya kendali atas dirinya sendiri, meski caranya justru bersifat masokis dan merugikan diri sendiri. Dostoevsky lewat karakter ini seolah berargumen bahwa manusia, ketika dihadapkan pada struktur dan aturan yang terlalu kaku, cenderung memberontak, bukan karena logika, tapi semata-mata buat membuktikan pada diri sendiri bahwa mereka masih bebas.

Liza dan Kegagalan Cinta sebagai Bukti Alienasi

Kalau bagian pertama buku ini penuh argumen filosofis, bagian kedua justru menunjukkan gimana filosofi itu berubah jadi tragedi personal lewat pertemuannya dengan Liza. Ketika Liza datang menemuinya dengan harapan mendapat kehangatan dan penebusan dari hidupnya sebagai pekerja seks, sang tokoh bawah tanah justru menghancurkan momen itu lewat amarah dan penghinaan, sebelum akhirnya menyesalinya sendirian. Momen ini jadi bukti paling telanjang bahwa keyakinannya soal kebebasan mutlak justru berujung pada kesepian yang dia ciptakan sendiri, bukan kebebasan sejati yang dia idam-idamkan.

Pada akhirnya, "Catatan dari Bawah Tanah" bukan cuma kritik terhadap rasionalisme abad kesembilan belas, tapi juga potret jujur soal betapa manusia bisa terjebak dalam pola pikirnya sendiri, sampai-sampai kebebasan yang dia perjuangkan mati-matian justru berubah jadi penjara yang lebih menyiksa ketimbang aturan sosial yang dia tolak sejak awal.

Komentar (0)

Baca Tulisan Kami Lainnya