Karena pahlawan Himmel akan melakukannya.
Kalau ngomongin anime Sousou no Frieren, banyak orang awalnya ngira ini cuma anime fantasi tentang penyihir elf yang jalan-jalan keliling dunia. Padahal, semakin jauh ceritanya berjalan, makin kelihatan kalau perjalanan Frieren bukan soal mengalahkan raja iblis atau mencari harta karun. Justru semuanya dimulai setelah petualangan besar itu selesai. Di titik inilah anime ini terasa unik.
Kalau dilihat lewat kacamata Carl Thompson dalam Travel Writing (2011), perjalanan bukan cuma perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Perjalanan adalah ruang buat seseorang melihat dunia, memahami dirinya sendiri, lalu membangun cara pandang baru terhadap orang lain. Thompson menyebut tiga unsur utama dalam sastra perjalanan, yaitu reporting the world, revealing the self, dan representing the other. Ketiga unsur ini terasa sangat hidup dalam perjalanan Frieren.
Yang menarik, Frieren memulai semuanya bukan karena rasa penasaran terhadap dunia. Dunia sudah terlalu lama ia kenal. Sebagai elf yang hidup lebih dari seribu tahun, hampir semua tempat terasa biasa baginya. Justru yang asing adalah manusia. Selama bertahun-tahun bertualang bersama Himmel, Heiter, dan Eisen, Frieren menganggap sepuluh tahun perjalanan mereka hanyalah bagian kecil dari hidupnya. Baru setelah Himmel meninggal, ia sadar kalau waktu yang terasa sebentar baginya ternyata adalah seluruh kehidupan bagi manusia. Penyesalan itulah yang akhirnya mendorongnya berjalan lagi.

Dunia yang Sama, Makna yang Berbeda
Dalam teori Thompson, perjalanan selalu menghasilkan proses reporting the world, yaitu bagaimana seorang pengelana menggambarkan dunia yang ia lewati. Namun, dunia dalam Sousou no Frieren tidak pernah terasa sekadar latar belakang. Setiap desa, reruntuhan, gunung, maupun hutan selalu membawa cerita yang berhubungan dengan masa lalu Frieren.
Menariknya, tempat-tempat yang dulu pernah ia lewati bersama kelompok pahlawan kini terlihat berbeda. Bukan karena bentuknya berubah, melainkan karena cara Frieren memandangnya sudah tidak sama. Dulu ia hanya melihat lokasi sebagai pemberhentian sementara. Sekarang setiap tempat mengingatkannya pada percakapan kecil, kebiasaan Himmel, atau momen sederhana yang dulu ia anggap tidak penting.
Hal seperti ini sejalan dengan pemikiran Thompson bahwa perjalanan tidak pernah benar-benar objektif. Apa yang dilihat seseorang selalu dipengaruhi pengalaman, ingatan, dan kondisi emosionalnya. Dunia yang sama bisa menghasilkan makna yang berbeda ketika orang yang melihatnya ikut berubah.
Karena itu, perjalanan Frieren terasa sangat personal. Ia tidak sedang menemukan dunia baru, melainkan menemukan makna baru dari dunia yang sebenarnya sudah lama ia kenal.

Mengenal Diri Lewat Langkah Kecil
Bagian paling kuat dari anime ini justru muncul ketika Frieren perlahan memahami dirinya sendiri. Thompson menyebut proses ini sebagai revealing the self. Dalam sastra perjalanan, seseorang biasanya berubah bukan karena tujuan akhirnya, tetapi karena pengalaman-pengalaman kecil yang terus menumpuk sepanjang perjalanan.
Hal itu terlihat jelas pada Frieren. Awalnya ia sulit memahami mengapa manusia begitu menghargai momen sederhana. Baginya, sepuluh tahun hanyalah sekejap. Namun setelah kehilangan Himmel, ia mulai menyadari bahwa kenangan tidak pernah diukur dari lamanya waktu, melainkan dari kedekatan hubungan yang terbangun.
Perubahan itu tidak datang secara tiba-tiba. Justru anime ini memilih ritme yang pelan. Frieren belajar melalui obrolan singkat dengan Fern, rasa penasaran Stark, hingga cerita orang-orang yang ditemuinya sepanjang jalan. Sedikit demi sedikit ia mulai mengingat kembali hal-hal yang dulu diabaikan. Senyum Himmel, kebiasaan Heiter bercanda, bahkan percakapan yang tampaknya sepele kini memiliki arti yang jauh lebih besar.
Di sinilah perjalanan benar-benar menjadi proses refleksi. Semakin jauh Frieren melangkah, semakin banyak ia memahami bahwa dirinya selama ini terlalu sibuk hidup dalam waktu yang panjang sampai lupa menghargai waktu yang dimiliki orang lain.

Memahami Orang Lain, Memahami Kehidupan
Aspek terakhir dalam teori Thompson adalah representing the other, yaitu bagaimana seorang pengelana melihat dan membangun hubungan dengan orang-orang yang berbeda darinya. Dalam banyak karya sastra perjalanan, perbedaan budaya sering menjadi sumber konflik atau penilaian. Namun di Sousou no Frieren, hubungan dengan "yang lain" justru menjadi jalan menuju empati.
Sebagai elf, Frieren hidup jauh lebih lama dibanding manusia. Perbedaan umur itu membuat cara berpikir mereka nyaris bertolak belakang. Dulu ia menganggap manusia terlalu terburu-buru menjalani hidup. Sekarang ia mulai memahami bahwa keterbatasan umur membuat setiap keputusan terasa berharga.
Fern dan Stark menjadi contoh paling sederhana. Bersama mereka, Frieren belajar membangun hubungan yang sebelumnya sulit ia lakukan. Ia mulai menunjukkan perhatian, memberikan hadiah kecil, mengingat kebiasaan teman-temannya, bahkan perlahan belajar mengungkapkan perasaan. Semua itu mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi seseorang yang hidup ribuan tahun tanpa benar-benar memahami manusia, perubahan tersebut sangat besar.
Kalau dipikir-pikir, perjalanan Frieren sebenarnya bukan perjalanan menuju Ende atau tempat mana pun. Tujuan sesungguhnya adalah memahami manusia yang selama ini selalu berada di dekatnya. Dunia fantasi hanya menjadi panggung untuk perjalanan emosional yang jauh lebih dalam.
Pada akhirnya, Sousou no Frieren menunjukkan bahwa perjalanan tidak selalu membawa seseorang ke tempat baru. Kadang, perjalanan hanya membawa kita kembali melihat masa lalu dengan hati yang berbeda. Lewat sudut pandang Carl Thompson, langkah-langkah Frieren membuktikan bahwa perjalanan terbaik bukan tentang seberapa jauh kita berjalan, melainkan seberapa banyak kita berubah selama berada di jalan itu. Itulah yang membuat kisah Frieren terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kita mungkin tidak hidup seribu tahun seperti dirinya, tetapi hampir semua orang pernah menyesal karena terlambat memahami arti kehadiran seseorang. Dan sering kali, penyesalan itu baru berubah menjadi pelajaran ketika kita memutuskan untuk melangkah lagi.


Komentar (0)