← Kembali ke Beranda Literaism Sastra

Travel Writing: Antara Kekaguman pada Dunia Lain dan Jejak Kolonialisme yang Tersembunyi

Redaksi Literaism
WhatsApp Facebook

Redaksi Literaism. (2026). Travel Writing: Antara Kekaguman pada Dunia Lain dan Jejak Kolonialisme yang Tersembunyi. Literaism. https://literaism.my.id/artikel/post1783504498204

Travel Writing: Antara Kekaguman pada Dunia Lain dan Jejak Kolonialisme yang Tersembunyi

Coba deh lo pikir, dari catatan Marco Polo yang menjelajah Asia, sampai blog backpacker yang sliweran di Instagram sekarang, semuanya sebenarnya masuk ke satu genre besar yang disebut sastra perjalanan atau travel writing. Genre ini kelihatannya sederhana, cuma cerita soal orang jalan-jalan terus nulis pengalamannya. Tapi begitu dibedah lebih dalam, travel writing ternyata jauh lebih rumit dan penuh muatan, mulai dari identitas, kekuasaan, sampai cara kita memandang orang lain yang berbeda dari kita.

Definisi Genre: Lebih dari Sekadar Cerita Jalan-jalan

Source: https://www.surrey.ac.uk/people/carl-thompson
Source: https://www.surrey.ac.uk/people/carl-thompson

Carl Thompson, salah satu akademisi paling berpengaruh dalam kajian travel writing, menjelaskan bahwa perjalanan pada dasarnya adalah pergerakan melintasi ruang, entah skalanya sekecil jalan-jalan di kampung sendiri atau sebesar menyeberangi benua. Tapi begitu seseorang melangkah keluar dari zona amannya, dia langsung berhadapan dengan sesuatu yang disebut alteritas, yaitu perbedaan dan keberlainan yang harus dinegosiasikan. Karena manusia di mana pun tetap berbagi kemanusiaan yang sama, setiap perjalanan sebenarnya adalah proses tarik-menarik antara yang asing dan yang akrab, antara perbedaan dan kemiripan.

Genre ini juga sengaja didefinisikan Thompson secara inklusif, mencakup penulis dari berbagai kalangan, laki-laki maupun perempuan, penjajah maupun terjajah, sehingga bisa menampung suara yang beragam dan protean. Definisi longgar ini penting, karena travel writing selama ini terlalu sering dianggap bacaan ringan tanpa bobot intelektual, padahal genre ini menyimpan kompleksitas yang nggak kalah dalam dari genre sastra lainnya.

Reporting the World, Revealing the Self: Dua Wajah dalam Satu Tulisan

Cheryl Strayed, author of Wild (2012) (Source: https://wild.pcta.org/2014/10/22/wild-cheryl-strayed-interview-pcta/)
Cheryl Strayed, author of Wild (2012) (Source: https://wild.pcta.org/2014/10/22/wild-cheryl-strayed-interview-pcta/)

Salah satu gagasan paling penting dari Thompson adalah bahwa setiap tulisan perjalanan selalu punya dua sisi sekaligus. Di satu sisi, dia jelas berfungsi sebagai laporan tentang dunia luar, catatan tentang tempat dan orang-orang yang asing bagi pembacanya. Tapi di sisi lain, tulisan itu juga secara bersamaan mengungkap sang penulis sendiri, nilai-nilai yang dia percaya, kecemasan yang dia simpan, dan asumsi yang dia bawa dari budayanya sendiri.

Ini artinya, ketika seseorang menulis soal negeri asing, dia sebenarnya juga sedang menulis soal dirinya sendiri, entah disadari atau nggak. Cerita tentang gunung yang didaki atau pasar yang dikunjungi selalu disaring lewat kacamata pribadi penulisnya, sehingga travel writing jadi semacam otobiografi terselubung. Bahkan gaya penulisan yang paling sederhana sekalipun, sekadar daftar catatan data dari perjalanan, tetap lahir dari pertemuan antara diri dan yang lain yang dipicu oleh pergerakan itu sendiri.

Representasi "Yang Lain": Jejak Kolonialisme yang Susah Dihapus

Henry Morton Stanley (Source: Wikipedia)
Henry Morton Stanley (Source: Wikipedia)

Bagian paling krusial dari kajian travel writing justru muncul ketika Thompson membahas hubungan genre ini dengan kolonialisme. Dia menunjukkan bagaimana travel writing klasik, seperti catatan penjelajahan Henry Morton Stanley di Afrika, ikut menciptakan dan melanggengkan wacana dominan yang melayani proyek imperial dari negara-negara metropolitan Eropa. Bahkan setelah kolonialisme formal berakhir, travel writing kontemporer sering kali diam-diam mereplikasi semangat proyek imperial yang sama, memperkuat dinamika geopolitik neokolonial tanpa disadari penulis maupun pembacanya.

Kritik lain menyebut genre ini cenderung menyodorkan stereotip yang merugikan tentang budaya lain, sekaligus memberi pesan yang menenangkan dan membanggakan diri bagi pembaca kelas menengah Barat yang jadi target utamanya. Tapi Thompson nggak menyamaratakan seluruh genre dengan tuduhan itu, karena ada juga banyak karya travel writing yang justru berusaha menantang ideologi ortodoks tersebut, membangun pemahaman lintas budaya yang lebih tulus ketimbang sekadar melanggengkan superioritas Barat.

Kenapa Genre Ini Masih Relevan Sampai Sekarang

Menariknya, minat akademis terhadap travel writing juga banyak terdorong oleh gerakan feminisme pasca-1970-an, yang mulai menyoroti kontribusi penting perempuan dalam genre ini, sekaligus membuka ruang diskusi soal gender dan seksualitas yang sebelumnya jarang disentuh. Di era sekarang, ketika identitas manusia makin sering bersifat lintas budaya dan hibrida, travel writing juga terus berkembang lewat bentuk-bentuk baru, mulai dari narasi pengungsi dan migran, sampai tulisan perjalanan yang mengangkat isu lingkungan dan ekokritisisme.

Pada akhirnya, membaca atau menulis catatan perjalanan bukan sekadar hobi dokumentasi liburan. Genre ini adalah cermin ganda, memantulkan dunia yang kita kunjungi sekaligus mengungkap siapa diri kita sebenarnya lewat cara kita memandang dan menceritakan dunia itu. Jadi lain kali lo nulis caption panjang soal liburan, ada baiknya sadar bahwa lo sebenarnya lagi ikut serta dalam tradisi sastra yang udah berabad-abad lamanya, lengkap dengan segala kerumitan dan tanggung jawab moralnya.

Komentar (0)

Baca Tulisan Kami Lainnya