Pas gue baru keluar bioskop setelah nonton "Supergirl" garapan Craig Gillespie, gue jadi keinget sesuatu. Ternyata keseluruhan filmnya ngikutin pola cerita kuno yang udah dipetakan Joseph Campbell puluhan tahun lalu lewat teorinya, Hero's Journey. Film ini diadaptasi dari komik "Supergirl: Woman of Tomorrow" karya Tom King dan Bilquis Evely, dan jadi film kedua dalam DC Universe garapan James Gunn setelah "Superman" tahun 2025. Menariknya, alih-alih jadi versi cewek dari Superman yang serba positif, Kara di sini digambarkan jauh lebih gelap, lebih terluka, dan jauh lebih manusiawi ketimbang sepupunya.
Sinopsis Singkat

Ceritanya berpusat pada Kara Zor-El yang lagi merayakan ulang tahunnya yang ke-23, hidup sebagai pemabuk berat di planet asing tanpa matahari kuning, sambil berusaha lupa kalau seluruh Krypton dan orang-orang yang dia cintai udah lenyap selamanya. Situasi berubah ketika anjingnya, Krypto, dilukai dan diracun sama Krem of the Yellow Hills, seorang perompak kejam yang mencuri kapalnya. Dari titik itu, Kara ketemu sama Ruthye Marye Knoll, gadis alien muda yang keluarganya juga dibantai oleh Krem yang sama, dan mereka berdua akhirnya melakukan perjalanan lintas galaksi buat mengejar keadilan sekaligus balas dendam, dibantu karakter nyentrik Lobo yang diperankan Jason Momoa.
Dunia Biasa yang Retak dan Panggilan Petualangan

Kalau ngikutin kerangka Campbell, setiap kisah kepahlawanan selalu dimulai dari dunia biasa milik sang tokoh sebelum akhirnya terganggu oleh panggilan buat berpetualang. Nah, dunia biasa Kara di sini bukan dunia yang nyaman, tapi dunia yang udah hancur duluan, kesepian akibat trauma kehilangan Krypton, ditambah kenyataan pahit bahwa misi awalnya buat melindungi sepupunya jadi sia-sia karena dia terlambat sampai ke Bumi. Ketika Krypto diracun oleh Krem, momen itu jadi panggilan petualangan yang memaksa Kara keluar dari kubangan self-pity dan minumannya, sekaligus memicu perjalanan yang jauh lebih personal ketimbang sekadar menyelamatkan dunia.
Yang bikin bagian ini terasa beda dari cerita superhero kebanyakan, Kara nggak langsung menyambut panggilan itu dengan gagah berani. Dia digambarkan sebagai sosok yang penuh luka dan frustrasi, sering kali kesulitan memenuhi standar tinggi yang sebenarnya ditujukan buat sepupunya sendiri. Tahap penolakan terhadap panggilan petualangan dalam teori Campbell jadi kerasa believable banget di sini, karena Kara emang belum siap secara emosional buat jadi pahlawan, dia cuma seorang yang trauma dan pengin diselamatkan duluan sebelum bisa menyelamatkan orang lain.
Sekutu, Guru, dan Ujian di Sepanjang Jalan

Setiap perjalanan pahlawan dalam kerangka Campbell selalu diwarnai oleh sekutu yang membantu, ujian yang menempa, dan ambang batas yang harus dilewati sebelum sang tokoh benar-benar berubah. Dalam "Supergirl", Ruthye jadi semacam cermin buat Kara, seorang gadis muda yang sama-sama kehilangan keluarga tapi belum sepenuhnya dikuasai amarah, sementara Lobo hadir sebagai sosok pendamping yang liar, tanpa moral jelas, tapi diam-diam jadi bagian dari proses pendewasaan Kara di sepanjang perjalanan. Ujian demi ujian dilalui, termasuk pertarungan melawan para Brigands dan drama ketika Kara harus menyelamatkan gadis-gadis yang diculik di kapal musuh, sebelum akhirnya berhadapan langsung dengan Krem.
Ambang batas paling penting justru muncul lewat dialog yang jadi inti seluruh cerita, ketika Kara menyadari bahwa dirinya dan sepupunya punya cara pandang berbeda soal apa artinya jadi pahlawan. Kalau Superman selalu percaya bahwa kebaikan bisa ditemukan di dalam diri siapa pun, Kara justru lebih percaya pada kebenaran mentah, versi kepahlawanan yang jauh lebih keras dan nggak selalu bersih. Perbedaan filosofi ini jadi fondasi penting buat memahami keputusan besar yang bakal diambil Kara di akhir cerita.
Elixir yang Pahit: Ketika Kembali Tidak Selalu Bersih

Tahap terakhir dalam Hero's Journey biasanya disebut sebagai kembalinya sang pahlawan dengan elixir, semacam hadiah atau kebijaksanaan yang dibawa pulang buat dibagikan ke dunia setelah melewati ujian terbesar. Nah, di sinilah film ini berani mengambil jalur yang jauh lebih gelap dari komik aslinya. Alih-alih membiarkan Krem dipenjara di Phantom Zone selama ratusan tahun sebagai bentuk penebusan dosa, seperti di komik, Kara justru mengambil pedang dari tangan Ruthye dan membunuh Krem dengan tangannya sendiri, sebuah adegan yang disebut sutradara Craig Gillespie sebagai keinginan James Gunn supaya Kara mengalami momen penentu yang mengubah arah moralnya secara permanen.
Keputusan ini jelas berbeda dari komiknya, di mana Kara justru mencegah Ruthye jadi pembunuh dan menegaskan bahwa dirinya, sama seperti sepupunya, bukanlah sosok yang membunuh. Perubahan ending ini bikin elixir yang dibawa pulang Kara terasa jauh lebih pahit ketimbang kemenangan moral yang biasa dirayakan di akhir cerita pahlawan konvensional. Kara memang berhasil, tapi harga yang dia bayar adalah kehilangan sebagian dari batas moral yang selama ini membedakannya dari musuh-musuhnya sendiri, dan itu jadi bibit konflik yang kemungkinan bakal terus bergulir sampai film lanjutan, "Man of Tomorrow".
Dari kacamata Campbell, justru di sinilah letak kekuatan naratif "Supergirl". Alih-alih menyodorkan pahlawan sempurna yang kembali dengan kebijaksanaan universal, film ini memilih menunjukkan bahwa proses penyembuhan dari trauma nggak selalu berujung ke tempat yang bersih dan mulia. Kara pulang membawa keadilan buat Ruthye, tapi juga membawa pulang bayangan gelap yang mungkin bakal terus menghantuinya. Ini jadi pengingat bahwa perjalanan seorang pahlawan, sebagaimana perjalanan manusia biasa, nggak selalu berakhir dengan jawaban yang memuaskan, kadang yang tersisa cuma pertanyaan baru tentang siapa sebenarnya diri kita setelah semua yang kita lalui.


Komentar (0)