← Kembali ke Beranda Literaism Sastra

Resensi Buku "Mual" (La Nausée) (1938) Karya Jean-Paul Sartre

Muhammad Rendy Hidayat
WhatsApp Facebook

Muhammad Rendy Hidayat. (2026). Resensi Buku "Mual" (La Nausée) (1938) Karya Jean-Paul Sartre. Literaism. https://literaism.my.id/artikel/post1783321834489

Resensi Buku "Mual" (La Nausée) (1938) Karya Jean-Paul Sartre

Ada buku yang bikin lo ngerasa nggak nyaman bukan karena ceritanya seram atau sedih, tapi karena dia berhasil bikin lo mempertanyakan hal paling dasar dari hidup: kenapa gue ada di sini, dan kenapa segala sesuatu di sekitar gue juga ada. "La Nausée" atau "Mual", novel pertama Jean-Paul Sartre yang terbit tahun 1938, adalah salah satu buku semacam itu.

Sinopsis

Source: IMDb
Source: IMDb

Tokoh utamanya, Antoine Roquentin, seorang sejarawan lajang berusia sekitar tiga puluh lima tahun yang tinggal sendirian di Bouville, kota fiktif yang mengingatkan pada Le Havre. Dia lagi mengerjakan biografi tentang Marquis de Rollebon, seorang petualang abad kedelapan belas, sambil hidup dari sisa tabungannya setelah berhenti kerja di Indochina karena bosan sama kehidupan yang katanya penuh petualangan itu. Hidupnya sepi, cuma bolak-balik ke perpustakaan kota, makan di bistro, tanpa teman dekat, tanpa keluarga, dan mantan kekasih bernama Anny yang udah nggak dia temui bertahun-tahun.

Semua berubah suatu hari ketika dia memungut batu kerikil di pantai, dan tiba-tiba diserang rasa nggak nyaman yang aneh, semacam jijik dan pusing yang nggak jelas asalnya. Sejak itu, benda-benda biasa mulai terasa mengganggu, garpu, gelas bir, bahkan tangannya sendiri, tiba-tiba terasa berlebihan dan nggak masuk akal keberadaannya. Roquentin menyebut sensasi itu sebagai Mual, dan gejala ini semakin sering muncul seiring waktu, sampai puncaknya terjadi lewat sebuah adegan yang jadi salah satu momen paling terkenal dalam sejarah sastra Prancis modern.

Kontingensi: Ketika Segala Sesuatu Terasa "Berlebihan"

Bagian paling filosofis dari novel ini muncul saat Roquentin duduk di taman kota, di bawah pohon kastanye, dan menatap akar pohon itu lama-lama. Tanpa peringatan, dia dihantam kesadaran bahwa akar itu benar-benar ada, hitam, berbuku-buku, dan menjijikkan, hadir tanpa alasan, tanpa pembenaran, tanpa nama yang bisa benar-benar menampung keberadaannya. Dari situ Roquentin menemukan apa yang disebut sebagai kontingensi eksistensial, gagasan bahwa segala sesuatu yang ada, benda, makhluk hidup, bahkan eksistensi itu sendiri, sama sekali nggak punya alasan wajib untuk ada. Semuanya bisa aja nggak ada, dan nggak ada satu pun kekuatan, baik Tuhan, alam, maupun sejarah, yang bisa menjelaskan kenapa mereka justru ada.

Buat orang yang belum pernah kepikiran hal semacam ini, konsep ini kedengarannya absurd banget. Tapi justru di situlah kekuatan Sartre sebagai penulis. Dia nggak menjelaskan kontingensi lewat kuliah filsafat yang kaku, tapi lewat sensasi fisik yang konkret, benda yang terasa lengket, menjijikkan, nyaris membusuk. Rasa mual yang dialami Roquentin bukan cuma metafora, tapi representasi paling jujur dari kecemasan menghadapi kenyataan bahwa nggak ada yang lebih tinggi dari manusia yang bisa membenarkan keberadaan segala sesuatu. Kesadaran ini juga yang bikin dia akhirnya berhenti menulis biografi Rollebon, karena dia sadar menulis sejarah orang yang udah mati cuma upaya sia-sia buat memberi makna pada sesuatu yang sebenarnya nggak punya makna bawaan.

Salaud dan Kepalsuan Hidup Kaum Borjuis

Source: IMDb
Source: IMDb

Di tengah pergulatannya sendiri, Roquentin juga mengamati masyarakat kelas menengah di Bouville dengan pandangan yang makin sinis. Dia menyebut mereka sebagai "salaud", orang-orang yang bersikap sok terhormat, membangun cerita tentang betapa pentingnya diri mereka, dan meyakini diri mereka sendiri sebagai bagian yang wajib ada di dunia ini. Bagi Roquentin, kepercayaan diri semacam itu cuma ilusi yang dibangun buat menutupi kebenaran yang jauh lebih menakutkan, yaitu bahwa keberadaan mereka sama nggak pentingnya dengan batu kerikil atau akar pohon yang bikin dia mual.

Sikap Roquentin terhadap kaum borjuis ini bukan sekadar sinisme kosong, tapi jadi kritik tajam terhadap cara manusia sering membungkus dirinya dengan status sosial, jabatan, atau kebiasaan sosial supaya nggak perlu berhadapan langsung dengan kekosongan eksistensial. Sartre lewat Roquentin ingin menunjukkan bahwa identitas semacam itu rapuh banget, dan begitu topeng sosial itu dilepas, yang tersisa cuma manusia telanjang yang harus berhadapan sendirian dengan pertanyaan soal makna hidupnya.

Seni sebagai Jalan Keluar yang Rapuh

Untungnya, novel ini nggak berhenti di titik keputusasaan doang. Menjelang akhir cerita, Roquentin mendengarkan sebuah lagu jazz lawas di kafe, dan momen itu jadi titik balik yang menenangkan setelah sekian lama dia dihantui rasa mual. Berbeda dari benda-benda di dunia nyata yang kontingen dan bisa aja nggak ada, melodi lagu itu terasa perlu, setiap notanya seolah memang harus berada di tempatnya, nggak bisa digantikan dengan cara lain. Dari situ Roquentin mulai berpikir bahwa karya seni, entah musik atau tulisan, mungkin bisa jadi cara manusia menciptakan sesuatu yang terasa perlu di tengah dunia yang pada dasarnya kontingen dan tanpa makna bawaan.

Roquentin akhirnya berencana menulis sebuah novel, buku yang dia harap bisa punya kekuatan sekokoh lagu jazz yang barusan menyelamatkan harinya. Tapi Sartre nggak menjadikan ini solusi instan yang menyelesaikan semua masalah eksistensial Roquentin. Jalan keluar lewat seni ini digambarkan rapuh, sekadar celah kecil di tengah dunia yang tetap absurd, bukan jawaban final yang membebaskan manusia sepenuhnya dari kecemasan eksistensinya sendiri.

Kenapa Buku Ini Masih Layak Dibaca

Buku ini emang berat, dan jujur aja, nggak ada plot besar yang bikin lo penasaran kayak novel-novel populer kebanyakan. Tapi justru di situ kekuatannya. "Mual" bukan cerita tentang kejadian, tapi tentang kesadaran, tentang bagaimana rasanya benar-benar berhenti sejenak dan menyadari bahwa hidup ini nggak datang dengan buku panduan atau alasan bawaan. Buat siapa pun yang pernah ngerasa asing sama dunianya sendiri, atau ngerasa hidup ini terasa berlebihan tanpa sebab yang jelas, novel Sartre ini bakal terasa seperti cermin yang jujur, kadang menyakitkan, tapi pada akhirnya membebaskan.

Komentar (0)

Baca Tulisan Kami Lainnya