← Kembali ke Beranda Literaism Film

Apakah Film Eksil Mampu Mengubah Cara Publik Memahami Nasib Warga Negara yang Terbuang?

Muhammad Khairu Rahman
WhatsApp Facebook

Muhammad Khairu Rahman. (2026). Apakah Film Eksil Mampu Mengubah Cara Publik Memahami Nasib Warga Negara yang Terbuang?. Literaism. https://literaism.my.id/artikel/post1783221214649

Apakah Film Eksil Mampu Mengubah Cara Publik Memahami Nasib Warga Negara yang Terbuang?

Film dokumenter Eksil karya sutradara Lola Amaria bukan sekadar karya sinema, melainkan juga upaya menghadirkan kembali suara mereka yang selama puluhan tahun terpinggirkan dalam sejarah Indonesia. Melalui kisah sepuluh warga Indonesia yang tidak dapat kembali ke tanah air setelah perubahan politik pada 1965, film ini mengajak penonton melihat tragedi nasional dari sudut pandang orang-orang yang kehilangan kewarganegaraan, keluarga, dan identitas.

Kualitas film ini mendapat pengakuan luas. Eksil meraih Piala Citra untuk kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik pada Festival Film Indonesia 2023, setelah sebelumnya memenangkan penghargaan Film Terbaik di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF).

Film yang Menggeser Fokus dari Ideologi ke Kemanusiaan

Source: Cuplikan Film Eksil
Source: Cuplikan Film Eksil

Selama bertahun-tahun, pembahasan mengenai peristiwa 1965 di Indonesia lebih banyak berpusat pada konflik ideologi dan politik. Eksil mengambil pendekatan yang berbeda. Film ini tidak berupaya menghakimi sejarah, melainkan memperlihatkan dampak kemanusiaan ketika ribuan warga negara kehilangan hak untuk kembali ke tanah air.

Film ini merekam pengalaman sepuluh Eksil Indonesia yang tersebar di Rusia, Belanda, Swedia, Republik Ceko, dan sejumlah negara Eropa lainnya. Mereka merupakan mahasiswa penerima beasiswa pemerintah Indonesia sebelum 1965 yang paspornya dicabut setelah pergantian kekuasaan, sehingga tidak dapat kembali ke Indonesia selama puluhan tahun.

Pendekatan tersebut membuat penonton tidak lagi hanya melihat peristiwa 1965 sebagai rangkaian konflik politik atau sekadar angka dalam sejarah, tetapi juga memahami bagaimana kebijakan negara dapat memengaruhi kehidupan individu, bahkan hingga lintas generasi.

Mengapa Kisah Eksil Penting?

Source: VOA Indonesia
Source: VOA Indonesia

Penelitian sejarah menunjukkan bahwa setelah 1965, ribuan warga negara Indonesia yang berada di luar negeri kehilangan paspor atau status kewarganegaraannya. Sebagian kemudian memperoleh kewarganegaraan baru, sementara sebagian lainnya hidup bertahun-tahun sebagai orang tanpa kewarganegaraan (stateless) sebelum akhirnya mendapatkan status hukum di negara tempat mereka menetap. Kajian para sejarawan, seperti Robert Cribb dan Geoffrey Robinson, menjelaskan bahwa dampak tragedi 1965 tidak hanya berupa pembunuhan massal dan penahanan politik, tetapi juga pengasingan warga negara Indonesia di berbagai belahan dunia. Berbagai penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengalaman para Eksil merupakan salah satu dimensi pelanggaran hak asasi manusia yang relatif kurang mendapat perhatian dibandingkan aspek-aspek lainnya.

Film Eksil berupaya mengisi kekosongan tersebut dengan menghadirkan wajah-wajah nyata di balik istilah "Eksil", sehingga penonton dapat melihat tragedi itu melalui pengalaman hidup mereka yang mengalaminya secara langsung.

Apakah Film Mampu Mengubah Persepsi Publik?

Jawabannya mungkin "ya", meskipun dengan beberapa batasan. Dalam kajian komunikasi politik, film dokumenter kerap dipahami sebagai media pembentuk memori kolektif. Sejumlah penelitian yang mengulas Eksil menunjukkan bahwa film ini berhasil menarik perhatian generasi muda, termasuk melalui media sosial, sehingga membuka ruang diskusi baru mengenai sejarah Indonesia yang sebelumnya kurang mereka kenal.

Keunggulan film ini tidak terletak pada penyampaian data statistik, melainkan pada kekuatan narasi personal. Penonton diajak mengikuti kerinduan seseorang terhadap kampung halaman, keluarga yang terpisah selama puluhan tahun, hingga pertanyaan sederhana tentang makna "rumah". Perspektif semacam ini sering kali lebih efektif dalam membangun empati dibandingkan penyampaian fakta sejarah semata. Meski demikian, perubahan persepsi publik tidak dapat bergantung pada satu film saja. Proses tersebut memerlukan dukungan pendidikan sejarah yang lebih terbuka, penelitian akademik, diskusi publik, serta akses terhadap beragam sumber sejarah. Kekuatan dan Keterbatasan Film

Source: CNN Indonesia
Source: CNN Indonesia

Secara sinematik, Eksil berhasil memadukan wawancara, arsip sejarah, animasi, serta dokumentasi perjalanan hidup para narasumber. Sutradara Lola Amaria diketahui menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan para Eksil, mengingat banyak di antara mereka masih menyimpan trauma dan ketakutan akibat pengalaman masa lalu.

Sebagai sebuah film dokumenter, Eksil tentu tidak dimaksudkan sebagai satu-satunya sumber untuk memahami sejarah. Penonton tetap perlu membaca berbagai penelitian akademik dari beragam perspektif agar memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai konteks politik, sosial, dan hukum pada masa tersebut. Dengan demikian, Eksil lebih tepat dipahami sebagai pintu masuk menuju diskusi sejarah daripada sebagai kesimpulan akhir.

Pelajaran bagi Indonesia

Terlepas dari berbagai perdebatan mengenai peristiwa 1965, Eksil mengingatkan bahwa setiap negara memiliki tanggung jawab untuk melindungi hak-hak dasar warganya, termasuk hak atas kewarganegaraan, identitas, dan kesempatan untuk kembali ke tanah air.

Dari perspektif hak asasi manusia internasional, pengalaman para Eksil menunjukkan pentingnya negara memastikan bahwa perbedaan pandangan politik tidak menjadi alasan untuk menghilangkan hak-hak kewarganegaraan seseorang secara sewenang-wenang. Pesan tersebut tetap relevan bagi Indonesia modern yang terus berupaya memperkuat demokrasi dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Penutup

Film Eksil mungkin tidak akan mengakhiri perdebatan panjang mengenai peristiwa 1965 di Indonesia. Namun, film ini berhasil menggeser fokus pembahasan, dari semata-mata konflik politik menuju pengalaman manusia yang hidup dengan kehilangan, keterasingan, dan kerinduan terhadap tanah air.

Jika tujuan sebuah film dokumenter adalah mendorong publik untuk kembali mempertanyakan sejarah yang selama ini diterima begitu saja, maka Eksil telah menjalankan fungsi tersebut dengan baik. Film ini mengingatkan bahwa memahami sejarah bukan berarti menghapus perbedaan pandangan, melainkan membuka ruang bagi kemanusiaan, empati, dan dialog yang lebih jujur.

Komentar (0)

Baca Tulisan Kami Lainnya