← Kembali ke Beranda Literaism Film

Dinamika Remaja pada Film “Waves” (2019)

Muhammad Rendy Hidayat
WhatsApp Facebook

Muhammad Rendy Hidayat. (2026). Dinamika Remaja pada Film “Waves” (2019). Literaism. https://literaism.my.id/artikel/post1783262389605

Dinamika Remaja pada Film “Waves” (2019)

Gue baru-baru ini nonton ulang "Waves" karya Trey Edward Shults, dan tiap kali kelar nonton, dada gue selalu berasa sesak. Film ini emang bukan tontonan yang bisa dinikmati sambil rebahan santai, soalnya dia nyeret penonton masuk ke kepala dua remaja yang lagi berjuang nyari jati diri di tengah tekanan yang berat banget.

Sinopsis Singkat

Tyler - Source: Ny Times
Tyler - Source: Ny Times

Cerita berpusat pada Tyler, remaja atlet gulat yang hidupnya kelihatan sempurna dari luar. Dia berpesta dengan teman-temannya dan menghabiskan waktu bersama pacarnya, Alexis, tapi di sisi lain dia terus-menerus didorong untuk jadi lebih baik oleh ayahnya yang dominan, Ronald. Tanpa sepengetahuan siapa pun, Tyler menyembunyikan cedera bahu serius yang bisa mengakhiri karier gulatnya, dan dia diam-diam mencuri obat penghilang rasa sakit demi tetap terlihat baik-baik saja di depan keluarganya.

Tekanan itu makin menumpuk ketika Alexis mengabari Tyler bahwa dia telat haid dan kemungkinan hamil. Beban yang udah numpuk sejak lama akhirnya meledak jadi kemarahan yang berujung tragedi, sebelum akhirnya film berpindah fokus ke adik Tyler, Emily, yang harus belajar menyembuhkan luka keluarganya dengan cara yang jauh lebih tenang.

Tekanan Orang Tua dan Krisis Pencarian Identitas

Kalau merujuk konsep Sarlito Wirawan Sarwono dalam bukunya Psikolog Remaja (1989), tugas psikososial remaja itu sebenarnya sederhana tapi berat: tumbuh dari sosok yang tergantung jadi sosok yang mandiri, dengan identitas yang bikin dia bisa berhubungan dengan orang lain secara dewasa. Nah, di titik inilah Tyler terjebak. Dia belum sempat menemukan siapa dirinya di luar bayang-bayang ayahnya, karena setiap langkahnya selalu diukur dari standar prestasi yang ditetapkan orang lain, bukan dari apa yang dia butuhkan sebagai individu yang lagi tumbuh.

Situasi ini jadi makin runyam karena Tyler nggak pernah dikasih ruang buat gagal. Padahal, proses menemukan identitas itu wajarnya melibatkan trial and error, bukan tuntutan sempurna tanpa jeda. Ketika dia menyembunyikan cedera bahunya demi tetap memenuhi ekspektasi sang ayah, itu sebenarnya tanda paling jelas kalau dia belum berhasil membangun rasa aman buat jadi dirinya sendiri, dan malah semakin terjebak dalam identitas yang dipaksakan dari luar.

Ledakan Emosi sebagai Ciri Khas Masa Remaja

G. Stanley Hall
G. Stanley Hall

Psikolog G. Stanley Hall pernah bilang kalau masa remaja itu masa penuh stres emosional, yang muncul dari perubahan fisik dan psikologis yang berlangsung cepat sekaligus luas. Nah, gejolak semacam ini kelihatan jelas banget di sepanjang perjalanan Tyler. Rasa sakit fisik yang dia rasain, dicampur sama tekanan mental dari berbagai arah, bikin dia nggak punya ruang buat memproses emosinya secara sehat, sampai akhirnya semua itu meledak dalam bentuk kekerasan yang menghancurkan hidupnya sendiri dan orang di sekitarnya.

Yang bikin film ini terasa jujur, sutradaranya nggak nyoba membenarkan tindakan Tyler, tapi justru menunjukkan gimana rentetan tekanan yang nggak pernah dikelola dengan baik bisa berujung ke titik yang nggak bisa lagi diperbaiki. Ini jadi pengingat penting, bahwa kehadiran problem emosional pada remaja itu bervariasi tiap individu, dan kalau nggak ditangani dengan pendampingan yang tepat, dampaknya bisa jauh lebih fatal dari yang dibayangkan orang dewasa di sekitarnya.

Emily dan Proses Menemukan Diri yang Lebih Utuh

Source: The Film Stage
Source: The Film Stage

Justru di babak kedua film inilah letak kekuatan naratifnya. Fokus cerita berpindah ke Emily, yang perlahan belajar menyembuhkan luka keluarganya lewat cara yang jauh lebih reflektif dibanding kakaknya. Perubahan rasio gambar dari sempit dan menyesakkan jadi kembali lega secara visual, seolah jadi metafora dari proses pemulihan psikologis yang nggak instan, tapi bertahap dan penuh kesabaran.

Kalau Tyler jadi gambaran remaja yang gagal menemukan ruang aman buat bertumbuh, Emily justru jadi representasi proses pencarian identitas yang lebih sehat, di mana dia belajar membangun hubungan baru, memaafkan, dan perlahan menyusun ulang siapa dirinya tanpa harus meniru cetakan yang dipaksakan keluarganya. Ini sejalan dengan gagasan bahwa remaja butuh kesempatan buat mengeksplorasi berbagai alternatif identitas, dan sayangnya kesempatan itu nggak selalu didapat secara setara oleh setiap orang.

Pada akhirnya, "Waves" bukan cuma cerita tentang satu keluarga yang hancur lalu berusaha pulih, tapi juga potret jujur soal betapa rentannya masa remaja kalau nggak dibarengi ruang buat gagal, ruang buat didengar, dan ruang buat menemukan diri sendiri tanpa tekanan yang berlebihan dari orang-orang terdekat.

Komentar (0)

Baca Tulisan Kami Lainnya