← Kembali ke Beranda Literaism Game

In This Economy Rasanya Pengen Beli Banyak Game di Steam, Tapi Dompet Bilang "Nanti Dulu, Bro"

Muhammad Rendy Hidayat
WhatsApp Facebook

Muhammad Rendy Hidayat. (2026). In This Economy Rasanya Pengen Beli Banyak Game di Steam, Tapi Dompet Bilang "Nanti Dulu, Bro". Literaism. https://literaism.my.id/artikel/post1783416552104

In This Economy Rasanya Pengen Beli Banyak Game di Steam, Tapi Dompet Bilang "Nanti Dulu, Bro"

Ada satu kebiasaan yang menurut gue hampir dimiliki semua gamer PC. Awalnya cuma buka Steam buat lihat-lihat. Nggak ada niat beli apa pun, cuma pengen cek game baru atau lihat apakah ada update dari game yang lagi diikuti. Eh, nggak sampai setengah jam, wishlist malah nambah tiga judul baru. Habis itu, seperti biasa, muncul kalimat andalan, "Nanti aja belinya pas Steam Sale." Masalahnya, begitu Steam Sale benar-benar datang, justru muncul persoalan baru. Game yang tadinya Rp700 ribu memang turun jadi Rp250 ribu, tapi wishlist kita isinya bukan satu game. Ada belasan. Akhirnya total belanjanya tetap bikin mikir dua kali.

Belakangan ini ada satu kalimat yang sering banget muncul di internet, yaitu "In this economy...". Kalimat itu terdengar seperti bercanda, padahal kalau dipikir lagi, isinya cukup mewakili kondisi banyak orang. Biaya hidup terus naik, kebutuhan sehari-hari makin banyak, sementara hobi tetap minta jatah. Buat gamer, godaan terbesar jelas datang dari Steam. Setiap ada diskon, rasanya selalu ada alasan buat membuka aplikasi itu, walaupun ujung-ujungnya cuma menatap tombol Add to Cart tanpa berani menekan Purchase.

Yang bikin lucu, beli game sekarang bukan lagi soal mampu atau nggak mampu. Kadang masalahnya justru soal prioritas. Lo mungkin punya uang buat beli satu game AAA yang baru rilis, tapi di sisi lain masih ada tagihan internet, bensin, makan, cicilan, atau kebutuhan lain yang jauh lebih penting. Akhirnya game yang udah lama diincer cuma bisa masuk wishlist sambil berharap suatu hari nanti diskonnya tembus 80 atau bahkan 90 persen. Aneh memang, tapi wishlist Steam sering bertambah lebih cepat daripada isi rekening.

Kalau dipikir-pikir, Steam memang jago bikin orang tergoda. Setiap musim diskon datang, notifikasi langsung bermunculan, "One or more items from your wishlist are on sale." Kalimat sesederhana itu kadang lebih ampuh daripada iklan apa pun. Awalnya cuma pengen lihat harga, lima menit kemudian udah buka review YouTube, baca komentar pengguna Steam, nonton gameplay, sampai mulai berhitung apakah kalau ngurangin nongkrong minggu ini masih bisa checkout satu game. Yang lebih parah, kadang kita bahkan nggak benar-benar butuh gamenya. Kita cuma takut kehilangan kesempatan karena diskonnya kelihatan terlalu bagus untuk dilewatkan.

Fenomena seperti ini sebenarnya punya nama dalam dunia psikologi, yaitu Fear of Missing Out atau FOMO. Diskon besar membuat otak merasa kalau kesempatan itu nggak akan datang dua kali. Padahal, siapa pun yang sudah lama memakai Steam pasti tahu kalau diskon hampir selalu datang lagi. Ada Summer Sale, Autumn Sale, Winter Sale, Spring Sale, Publisher Sale, bahkan Weekend Sale. Hampir setiap bulan selalu ada alasan untuk menunggu harga turun. Ironisnya, kita sering tetap membeli karena takut menyesal, bukan karena benar-benar ingin langsung memainkannya.

Yang lebih lucu lagi, banyak game yang akhirnya cuma jadi penghuni library. Pas pertama beli rasanya senang bukan main, tapi beberapa bulan kemudian ternyata waktu bermainnya baru satu jam. Sisanya belum pernah disentuh lagi. Rasanya kayak punya rak buku penuh novel bagus, tapi semuanya masih dibungkus plastik. Kita senang karena merasa memilikinya, bukan karena benar-benar menikmatinya.

Semakin bertambah usia, muncul masalah baru yang menurut gue jauh lebih menyebalkan. Waktu kecil kita punya banyak waktu, tapi nggak punya uang buat beli game. Sekarang setelah mulai kerja dan penghasilan sudah ada, justru waktu mainnya yang hilang. Pulang kerja udah capek, akhir pekan kadang dipakai buat istirahat atau mengurus hal lain. Akhirnya library Steam terus bertambah, sementara game yang benar-benar selesai bisa dihitung dengan jari. Nggak heran kalau istilah backlog sekarang makin akrab di telinga para gamer. Isinya bukan daftar game yang mau dibeli, tapi daftar game yang sebenarnya sudah dimiliki dan entah kapan bakal dimainkan.

Kadang gue juga berpikir, mungkin yang kita cari sebenarnya bukan sekadar game baru. Bisa jadi kita sedang mengejar perasaan yang pernah kita rasakan waktu dulu. Dulu, satu game bisa dimainkan berbulan-bulan. Kita hafal setiap sudut map, rela mengulang level yang sama berkali-kali, dan nggak merasa bosan. Sekarang kondisinya berbeda. Baru main beberapa jam, sudah muncul trailer game lain yang lebih keren. Belum lagi YouTube, TikTok, Twitter, sampai Discord yang setiap hari membahas rilisan terbaru. Rasanya selalu ada game yang harus dimainkan supaya nggak ketinggalan obrolan.

Padahal kalau dipikir lebih santai, nggak semua game harus dimiliki saat hari pertama rilis. Nggak semua game juga wajib langsung dimainkan. Menyelesaikan satu game sampai tamat sering kali jauh lebih memuaskan daripada membeli lima game sekaligus yang akhirnya cuma jadi pajangan digital. Toh, pengalaman bermain bukan ditentukan oleh seberapa panjang library Steam kita, melainkan seberapa dalam kita menikmati game yang sedang dimainkan.

Menurut gue, menjadi gamer di kondisi ekonomi sekarang memang menuntut kita buat lebih realistis. Harga game makin tinggi, kurs dolar sering bikin harga regional ikut berubah, sementara kebutuhan hidup juga nggak pernah berhenti. Jadi kalau sekarang lebih sering menekan tombol Add to Wishlist daripada Add to Cart, itu bukan berarti kita berhenti mencintai hobi ini. Justru sebaliknya, kita sedang belajar menikmati game dengan cara yang lebih masuk akal.

Lagipula, Steam Sale akan selalu datang lagi. Wishlist mungkin nggak akan pernah habis, bahkan kemungkinan bakal terus bertambah setiap bulan. Tapi uang, waktu, dan tenaga kita tetap punya batas. Dan mungkin, di situlah letak serunya menjadi gamer saat ini. Kita belajar memilih, belajar sabar menunggu diskon, dan belajar menerima bahwa nggak semua game harus langsung dimiliki. Karena pada akhirnya, yang bikin kita jatuh cinta sama dunia game bukan jumlah game yang ada di library, melainkan momen ketika kita akhirnya duduk santai, memakai headset, menyalakan game favorit, lalu lupa sejenak sama ribetnya kehidupan. Walaupun sebelum itu, kita tetap berharap satu hal yang sama: semoga pas Steam Sale berikutnya, game incaran akhirnya turun sampai 90 persen.

Komentar (0)

Baca Tulisan Kami Lainnya