← Kembali ke Beranda Literaism Modern Culture

Lifestyle Kekinian, Krisis Lingkungan Berkepanjangan

Muhammad Khairu Rahman
WhatsApp Facebook

Muhammad Khairu Rahman. (2026). Lifestyle Kekinian, Krisis Lingkungan Berkepanjangan. Literaism. https://literaism.my.id/artikel/post1783619178991

Lifestyle Kekinian, Krisis Lingkungan Berkepanjangan

Kehidupan modern hari ini dipenuhi oleh budaya konsumsi yang bergerak sangat cepat. Media sosial menciptakan standar hidup baru, pakaian harus selalu mengikuti tren, tempat nongkrong harus estetik, makanan harus menarik secara visual, dan aktivitas sehari-hari harus terlihat menarik untuk dipamerkan di ruang digital. Di balik semua itu, muncul pertanyaan penting, apakah gaya hidup kekinian yang dianggap modern dan keren justru sedang memperpanjang krisis lingkungan?

Jean Baudrillard
Jean Baudrillard

Perkembangan teknologi memang membawa kemudahan. Namun modernitas juga melahirkan budaya konsumsi yang sulit dikendalikan. Jean Baudrillard dalam The Consumer Society menjelaskan bahwa masyarakat modern tidak lagi membeli barang berdasarkan kebutuhan, melainkan simbol dan citra sosial (Baudrillard, 1998, hlm. 29). Dalam konteks sekarang, seseorang membeli sepatu bukan karena sepatu lama rusak, tetapi karena model terbaru sedang viral di media sosial.

Budaya ini menghasilkan pola konsumsi besar-besaran yang berdampak langsung pada lingkungan. Produksi industri meningkat, limbah bertambah, penggunaan energi melonjak, sementara alam dipaksa terus menyediakan sumber daya tanpa henti. Akibatnya, kerusakan lingkungan tidak lagi menjadi ancaman masa depan, tetapi realitas yang sedang terjadi sekarang.

Fast Fashion dan Budaya Konsumsi Instan

Source: Greenpeace
Source: Greenpeace

Salah satu contoh nyata lifestyle modern yang memperburuk lingkungan adalah fenomena fast fashion. Industri fesyen hari ini bergerak sangat cepat mengikuti tren media sosial. Pakaian diproduksi massal dengan harga murah agar masyarakat terus membeli barang baru. Akibatnya, pakaian menjadi barang sekali pakai.

Menurut laporan United Nations Environment Programme (UNEP), industri fesyen menyumbang sekitar 8–10 persen emisi karbon global dan menjadi salah satu industri paling mencemari lingkungan di dunia (UNEP, 2021, hlm. 18). Produksi tekstil membutuhkan air dalam jumlah besar, bahan kimia berbahaya, dan menghasilkan limbah yang sulit terurai.

Ironisnya, budaya konsumsi ini sering dibungkus dengan istilah “self reward” atau “healing”. Banyak orang membeli barang bukan karena kebutuhan, melainkan dorongan psikologis untuk merasa diterima secara sosial. Media sosial memperkuat tekanan tersebut melalui budaya flexing dan validasi digital.

Herbert Marcuse
Herbert Marcuse

Herbert Marcuse dalam One-Dimensional Man menyebut masyarakat modern terjebak dalam “kebutuhan palsu”, yaitu kebutuhan yang sebenarnya diciptakan oleh sistem kapitalisme untuk menjaga konsumsi tetap berjalan (Marcuse, 1964, hlm. 7). Akibatnya, manusia modern merasa bebas memilih, padahal sebenarnya dikendalikan oleh pasar dan algoritma. Dalam kondisi seperti ini, lingkungan menjadi korban utama. Alam dieksploitasi demi memenuhi gaya hidup yang berubah hanya dalam hitungan minggu.

Budaya Digital dan Krisis Sampah

Source: Euronews.com
Source: Euronews.com

Kemajuan teknologi digital juga melahirkan paradoks baru. Di satu sisi, teknologi dianggap ramah lingkungan karena mengurangi penggunaan kertas dan mempermudah aktivitas manusia. Namun di sisi lain, budaya digital justru menciptakan pola konsumsi baru yang sangat eksploitatif.

Fenomena belanja online misalnya, meningkatkan penggunaan plastik kemasan, kardus sekali pakai, dan limbah logistik. Setiap hari jutaan paket dikirim ke berbagai wilayah dengan jejak karbon yang besar. Kemudahan “checkout” membuat masyarakat membeli barang secara impulsif tanpa mempertimbangkan kebutuhan nyata.

Selain itu, perkembangan elektronik yang cepat menghasilkan limbah elektronik atau e-waste. Menurut laporan Global E-Waste Monitor 2024, dunia menghasilkan lebih dari 62 juta ton limbah elektronik setiap tahun dan sebagian besar tidak didaur ulang dengan baik (UNITAR, 2024, hlm. 12). Smartphone, laptop, charger, dan perangkat elektronik lain terus diganti demi mengikuti perkembangan tren teknologi.

Masalahnya bukan hanya pada sampah, tetapi juga pada pola pikir masyarakat modern yang terbiasa dengan budaya instan. Barang dianggap mudah diganti, bukan diperbaiki. Akibatnya, lingkungan dipenuhi limbah yang terus meningkat sementara kemampuan alam untuk memulihkan diri semakin terbatas.

Krisis Lingkungan dan Ketimpangan Sosial

Kerusakan lingkungan tidak pernah berdampak secara setara. Kelompok masyarakat miskin sering menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Ketika banjir terjadi akibat kerusakan hutan dan tata kota yang buruk, masyarakat kecil kehilangan rumah dan mata pencaharian. Ketika udara tercemar, kelompok rentan mengalami risiko kesehatan paling besar.

Sementara itu, kelompok kelas atas yang menikmati gaya hidup konsumtif justru memiliki akses lebih baik untuk melindungi diri dari dampak lingkungan. Fenomena ini menunjukkan bahwa krisis lingkungan juga berkaitan erat dengan ketimpangan sosial.

Naomi Klein
Naomi Klein

Naomi Klein dalam This Changes Everything menjelaskan bahwa krisis iklim tidak bisa dipisahkan dari sistem ekonomi yang menempatkan keuntungan di atas keberlanjutan lingkungan (Klein, 2014, hlm. 21). Alam diperlakukan sebagai objek eksploitasi demi pertumbuhan ekonomi tanpa batas.

Di Indonesia, persoalan ini terlihat dalam berbagai kasus deforestasi, pertambangan, dan proyek pembangunan yang sering mengorbankan lingkungan hidup masyarakat lokal. Hutan dibuka demi industri, sungai tercemar oleh limbah, dan ruang hidup masyarakat semakin sempit. Namun di saat bersamaan, gaya hidup urban terus mendorong permintaan konsumsi yang tinggi.

Krisis lingkungan akhirnya menjadi lingkaran panjang antara kapitalisme, konsumsi modern, dan lemahnya kesadaran ekologis masyarakat.

Membangun Kesadaran Baru di Tengah Modernitas

Mengkritik lifestyle modern bukan berarti menolak perkembangan zaman. Persoalannya bukan pada teknologi atau modernitas itu sendiri, tetapi pada cara manusia menggunakan dan memaknai kehidupan modern.

Kesadaran ekologis perlu dibangun bukan sekadar sebagai tren sementara, tetapi sebagai cara hidup. Mengurangi konsumsi berlebihan, menggunakan barang lebih lama, mendukung produk ramah lingkungan, serta membatasi budaya konsumtif merupakan langkah kecil yang penting.

Namun perubahan individu saja tidak cukup. Negara dan korporasi memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan sistem ekonomi yang lebih berkelanjutan. Regulasi terhadap industri pencemar lingkungan harus diperkuat. Pendidikan lingkungan juga harus menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran generasi muda.

Anthony Giddens
Anthony Giddens

Anthony Giddens menyebut bahwa modernitas sering menciptakan risiko yang dihasilkan oleh manusia sendiri (manufactured risk) (Giddens, 1990, hlm. 124). Artinya, krisis lingkungan hari ini bukan bencana alami semata, tetapi hasil dari pola pembangunan dan gaya hidup manusia modern.

Jika lifestyle kekinian terus dibangun di atas budaya konsumsi tanpa batas, maka krisis lingkungan akan terus berkepanjangan. Generasi sekarang mungkin masih bisa menikmati kenyamanan modernitas, tetapi generasi mendatang akan mewarisi kerusakan ekologis yang jauh lebih parah.

Pada akhirnya, pertanyaan paling penting bukan lagi bagaimana hidup terlihat keren di media sosial, tetapi apakah cara hidup manusia hari ini masih memungkinkan bumi tetap layak dihuni di masa depan.

Referensi

• Baudrillard, Jean. The Consumer Society: Myths and Structures. London: Sage Publications, 1998, hlm. 29.

• Giddens, Anthony. The Consequences of Modernity. Stanford: Stanford University Press, 1990, hlm. 124.

• Klein, Naomi. This Changes Everything: Capitalism vs The Climate. New York: Simon & Schuster, 2014, hlm. 21.

• Marcuse, Herbert. One-Dimensional Man. Boston: Beacon Press, 1964, hlm. 7.

• United Nations Environment Programme (UNEP). Sustainability and Circularity in the Textile Value Chain. Nairobi: UNEP, 2021, hlm. 18.

• United Nations Institute for Training and Research (UNITAR). Global E-Waste Monitor 2024. Geneva: UNITAR, 2024, hlm. 12.

Komentar (0)

Baca Tulisan Kami Lainnya