Kalau lo pernah denger nama Pangeran Antasari atau ngelewatin Masjid Sultan Suriansyah di Banjarmasin, sebenarnya lo lagi nyentuh salah satu potongan kecil dari sejarah panjang Kesultanan Banjar, kerajaan Islam yang pernah jadi kekuatan paling disegani di seluruh Kalimantan. Ceritanya penuh dengan perebutan kekuasaan, aliansi politik lintas pulau, sampai perlawanan berdarah yang berlangsung puluhan tahun melawan penjajah.
Awal Mula: Dari Kerajaan Hindu ke Perebutan Tahta

Sebelum ada Kesultanan Banjar, wilayah Kalimantan Selatan udah lebih dulu dikuasai Kerajaan Negara Daha, kerajaan bercorak Hindu yang berpusat di sekitar Amuntai. Maharaja Sukarama, penguasa Negara Daha, berwasiat bahwa penerusnya kelak adalah cucunya sendiri, Raden Samudera, anak dari putrinya bernama Galuh Intan Sari. Sayangnya, wasiat ini malah memicu kekacauan besar, karena tiga putra Sukarama sendiri, yaitu Pangeran Mangkubumi, Pangeran Bagalung, dan Pangeran Tumenggung, juga ngincer takhta yang sama.
Setelah Sukarama wafat, Negara Daha sempat dipimpin Pangeran Mangkubumi karena Raden Samudera masih terlalu muda buat memerintah. Tapi drama keluarga makin runyam ketika Mangkubumi dibunuh atas hasutan adiknya sendiri, Pangeran Tumenggung, yang kemudian mengambil alih kekuasaan. Raden Samudera yang masih kecil pun diungsikan diam-diam ke daerah Kuin demi keselamatannya, sementara Tumenggung memerintah Negara Daha dalam situasi politik yang nggak stabil.
Lahirnya Kesultanan Islam di Tepi Sungai

Di pengasingan itulah Raden Samudera perlahan membangun kekuatan, dibantu tokoh penting bernama Patih Masih yang jadi otak strategi politiknya. Patih Masih menyarankan supaya Raden Samudera minta bantuan ke Kesultanan Demak, kerajaan Islam terbesar di Jawa waktu itu, buat menghadapi pamannya. Sultan Trenggana dari Demak setuju membantu, tapi dengan syarat Raden Samudera dan seluruh pengikutnya harus memeluk Islam. Demak lantas mengirim pasukan dan seorang ulama bernama Khatib Dayan buat memimpin proses pengislaman sekaligus membantu perjuangan militer.
Berkat bantuan itu, Raden Samudera akhirnya berhasil mengalahkan Pangeran Tumenggung dan meruntuhkan kekuasaan Negara Daha yang lama. Dia lalu masuk Islam bersama keluarganya dan berganti gelar jadi Sultan Suriansyah, sekaligus menjadikan momen itu sebagai titik lahirnya Kesultanan Banjar, kerajaan Islam pertama di tanah Kalimantan. Pusat kerajaan kemudian dibangun di Bandarmasih, kampung kecil di tepi sungai yang lambat laun berkembang jadi kota besar bernama Banjarmasin. Salah satu peninggalan pentingnya, Masjid Sultan Suriansyah, sampai sekarang masih berdiri kokoh di kawasan Kuin sebagai bukti fisik dari awal mula penyebaran Islam di wilayah ini.
Masa Kejayaan sebagai Kerajaan Terkuat di Kalimantan

Kesultanan Banjar mencapai puncak kejayaannya di dekade pertama abad ke-17, dengan lada sebagai komoditas dagang andalan yang bikin perekonomian kerajaan melesat. Berkat kekuatan militer dan ekonominya yang makin solid, Kesultanan Banjar berhasil memperluas kekuasaannya ke hampir seluruh penjuru Kalimantan, mulai dari Sambas, Sukadana, Kotawaringin, Sampit, Kutai, Pasir, sampai wilayah Karasikan di ujung utara. Praktis, wilayah barat daya, tenggara, dan timur Pulau Kalimantan waktu itu tunduk membayar upeti ke Banjarmasin, menjadikannya kerajaan paling dominan di pulau itu.
Menariknya, dulu Kesultanan Banjar sendiri sempat membayar upeti ke Demak sebagai bentuk penghormatan atas bantuan yang pernah diberikan. Tapi setelah Demak digantikan Kesultanan Pajang, Banjar berhenti mengirim upeti dan mulai berdiri sepenuhnya sebagai kerajaan mandiri yang disegani. Bahkan gelar sultan pun jadi eksklusif cuma dipakai penguasa Banjar, sementara kerajaan-kerajaan pecahan di sekitarnya cuma boleh memakai gelar pangeran. Kejayaan ini makin terdongkrak ketika Perang Makassar meletus, karena banyak pedagang yang sebelumnya berpusat di Somba Opu justru pindah dan berdagang di Banjarmasin, bikin pelabuhan kerajaan ini makin ramai dan makmur.
Keruntuhan dan Perlawanan Pangeran Antasari

Sayangnya, kejayaan itu perlahan meredup seiring makin dalamnya campur tangan Belanda dalam urusan internal kerajaan. Puncaknya terjadi tahun 1859, saat Belanda mengangkat Pangeran Tamjidillah II sebagai sultan, padahal menurut wasiat Sultan Adam, yang seharusnya naik takhta adalah Pangeran Hidayatullah II. Keputusan sepihak ini memicu kemarahan rakyat dan bangsawan Banjar, hingga akhirnya meletus perlawanan besar yang dikenal sebagai Perang Banjar, dipimpin oleh Pangeran Antasari, cucu dari Sultan Sulaiman.
Perang berlangsung sengit dan berlarut-larut, tapi akhirnya dimenangkan Belanda, yang secara sepihak membubarkan Kesultanan Banjar pada 11 Juni 1860. Meski begitu, perlawanan rakyat di pedalaman Barito nggak langsung padam. Perjuangan diteruskan oleh putra Antasari, Sultan Muhammad Seman, sampai akhirnya dia gugur pada 24 Januari 1905, menandai babak akhir dari perlawanan panjang Kesultanan Banjar terhadap kolonialisme. Banyak keturunan bangsawan kerajaan yang akhirnya tercerai-berai, ada yang mengungsi ke pedalaman Kalimantan, ada yang dibuang ke Jawa, dan sebagian lagi gugur dalam pertempuran demi mempertahankan kedaulatan tanah leluhurnya.
Warisan yang Masih Hidup
Meski secara politik Kesultanan Banjar udah lama bubar, jejaknya masih hidup sampai hari ini, mulai dari Masjid Sultan Suriansyah, tradisi haul ulama besar seperti Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, sampai lembaga kesultanan yang sempat dipulihkan kembali tahun 2010 meski cuma sebagai simbol budaya tanpa kekuatan politik. Menariknya, restorasi ini juga menghadirkan sosok seperti Sultan Khairul Saleh yang berupaya merawat kembali jejak sejarah leluhurnya. Kisah Kesultanan Banjar akhirnya jadi pengingat penting, bahwa di balik rimbunnya sungai dan rawa Kalimantan Selatan, pernah berdiri sebuah kerajaan besar yang lahir dari perebutan takhta, dibesarkan oleh perdagangan, dan runtuh karena keberanian mempertahankan kedaulatan sampai titik darah penghabisan.


Komentar (0)