Lo pernah nggak sih ngerasa capek banget mikirin hidup sampai akhirnya mutusin buat ngomel aja ke orang asing di jalan? Nah, itu kira-kira gambaran paling sederhana dari Johnny, karakter utama di film Naked karya Mike Leigh yang rilis tahun 1993. Film ini bukan cuma drama kelam biasa, tapi semacam terjemahan visual dari pemikiran filsuf Rumania bernama Emil Cioran, orang yang seumur hidupnya sibuk mikirin kenapa eksistensi manusia itu absurd dan menyakitkan. Kalau lo penasaran gimana filsafat pesimisme bisa nyelinap ke dalam sinema Inggris yang suram, film ini jawabannya.
Siapa Emil Cioran dan Kenapa Dia Segelap Itu

Sebelum masuk ke filmnya, gue mau kenalin dulu sosok di balik pemikiran yang menghantui Johnny sepanjang film. Emil Cioran itu filsuf sekaligus penulis aforisme asal Rumania yang pindah ke Paris dan hidup menyendiri di sana sampai akhir hayatnya. <cite index="29-1">Karyanya dikenal karena pesimisme filosofis yang begitu kental, gaya penulisan yang khas, dan aforisme-aforismenya, dengan tema yang terus-menerus menyentuh soal penderitaan, kehancuran, dan nihilisme</cite>. Bukan tipe filsuf yang ngasih lo solusi rapi buat masalah hidup, Cioran justru lebih senang menelanjangi betapa nggak masuk akalnya keberadaan kita di dunia ini.
Yang bikin Cioran beda dari filsuf pesimis lainnya adalah caranya menyampaikan gagasan. Dia nggak nulis sistem filsafat yang runtut kayak buku teks, tapi lebih ke serpihan-serpihan pemikiran yang tajam dan personal. <cite index="35-1">Karya Cioran menghadapi realita yang nggak nyaman dari eksistensi manusia, fokus ke penderitaan, absurditas, dan beban emosional dari menjadi makhluk sadar di dunia yang terkesan acuh tak acuh</cite>. Dia menolak filsafat tradisional, penghiburan agama, dan sistem-sistem rasional, lalu justru menghadirkan hidup sebagai rangkaian kontradiksi yang nggak pernah bisa diselesaikan, bukan masalah yang harus dipecahkan.
Ini penting banget buat dipahami sebelum kita masuk ke Naked, karena karakter utamanya, Johnny, secara literal terpengaruh sama cara pikir kayak gini. Dia bukan orang yang lagi nyari jawaban, dia orang yang udah lama berhenti percaya bakal ada jawaban, tapi tetep aja nggak bisa berhenti ngomong soal itu.
Johnny: Manusia yang Ngomong Terus Biar Nggak Denger Suaranya Sendiri

Naked bercerita soal Johnny, diperanin David Thewlis dengan cara yang bikin banyak kritikus sepakat itu salah satu penampilan terbaik dalam sejarah sinema Inggris. <cite index="39-1">Setelah melakukan pemerkosaan, Johnny kabur dari Manchester ke London, dan karena nggak punya tempat lain buat pergi, dia mendatangi rumah mantan pacarnya, Louise</cite>. Dari situ, film ini berubah jadi semacam pengembaraan malam yang nggak berujung, di mana Johnny muter-muter di jalanan London sambil melempar teori demi teori tentang kiamat, ketuhanan, dan kehampaan hidup ke siapa pun yang mau dengerin, atau bahkan yang nggak mau dengerin sekalipun.
Yang menarik, karakter Johnny ini bukan cuma sosok nihilis yang keren-kerenan doang. Ada analisis akademik yang ngeliat dia sebagai figur yang jauh lebih kompleks dari sekadar antihero sinis. <cite index="34-1">Ironi korosif Johnny, erotisme yang bersifat merusak diri, serta verbalisme kompulsifnya membentuk kritik radikal terhadap kode-kode emosional yang udah dinormalisasi secara budaya</cite>. Dengan kata lain, Johnny ngomong terus bukan cuma karena dia pinter atau suka pamer pengetahuan, tapi karena diam itu sendiri jadi ruang yang terlalu menakutkan buat dia masuki.
Ada pengamatan menarik soal ini dari sebuah ulasan mendalam tentang film ini. Di sela-sela pertemuan Johnny sama orang-orang yang dia temui sepanjang malam, dia sering banget berdiri diam di ambang pintu, dan justru di momen-momen sunyi itulah keyakinannya soal ketiadaan mulai goyah. <cite index="44-1">Johnny bicara khusus supaya dia nggak perlu mendengarkan dirinya sendiri, karena ketika dia beneran dibiarkan sendirian buat mikirin dirinya dan posisinya di alam semesta, dia tahu dia nggak akan tahan sama yang pertama dan nggak punya gambaran sama sekali soal yang kedua</cite>. Ini persis kayak apa yang Cioran gambarin soal kesadaran manusia yang jadi beban, bukan berkah.
Ketika Kamera Jadi Cermin Bagi Filsafat Absurd

Yang bikin Naked istimewa bukan cuma soal Johnny doang, tapi cara Mike Leigh sebagai sutradara memilih buat nggak pernah ikut campur ngasih penilaian moral ke ceritanya. Ada analisis yang ngebandingin pendekatan ini sama pemikiran Albert Camus soal absurditas, meskipun akar filosofis Johnny lebih deket ke Cioran. <cite index="30-1">Yang bikin film ini bahkan lebih layak diapresiasi soal tulisan Camus adalah penolakan sutradara Mike Leigh buat menjawab pertanyaan atau merefleksikan makna, karena Leigh nggak sekalipun mencoba membuktikan pola pikir Johnny salah, melainkan menyajikannya serealistis mungkin, membiarkan penonton sendiri yang bikin penilaian dan keputusan tanpa bias</cite>.
Pendekatan kayak gini bikin penonton jadi ikut bertanggung jawab atas cara mereka membaca film ini. Nggak ada narator yang bilang "Johnny salah" atau "Johnny benar". Kita cuma dikasih dunia tanpa konsekuensi jelas dan karakter tanpa keyakinan moral yang solid, terus dibiarkan mikir sendiri. Ini sebenarnya cocok banget sama gaya berpikir Cioran yang emang nggak pernah nawarin solusi, cuma nawarin kejujuran brutal soal betapa absurdnya keberadaan kita.
Ada juga yang secara eksplisit ngaitin gaya penceritaan Naked sama filsafat pesimisme Cioran lewat istilah "poetika nihilistik". <cite index="34-1">Alih-alih menggambarkan antihero sinis atau libertine sadis, Johnny justru muncul sebagai subjek tragis yang secara keras menolak kodifikasi perasaan, fiksi spontanitas emosional, dan mandat afektif dari modernitas lanjut</cite>. Artinya, Johnny bukan cuma karakter jahat yang suka nyakitin orang, tapi representasi dari perlawanan terhadap tuntutan sosial yang maksa kita buat selalu tampil "baik-baik aja" secara emosional, padahal di dalam kita berantakan.
Kenapa Filsafat Segelap Ini Masih Kerasa Relevan

Yang bikin Naked dan pemikiran Cioran masih relevan sampai sekarang adalah karena keduanya menolak buat ngasih kita jalan pintas keluar dari rasa hampa. Dunia sekarang penuh sama konten yang nawarin "5 langkah biar hidup lo bahagia" atau filosofi hidup instan yang gampang dikonsumsi lewat reels 30 detik. Naked dan Cioran justru ngajak kita buat berhenti sebentar dan ngakuin bahwa nggak semua hal punya jawaban rapi, dan itu nggak apa-apa.
Salah satu adegan paling ikonik di film ini adalah ketika Johnny ngobrol panjang lebar sama seorang satpam malam bernama Brian, yang awalnya kelihatan cuma obrolan iseng, tapi lama-lama berubah jadi perbincangan filosofis tentang kiamat, barcode, sampai bencana Chernobyl. <cite index="45-1">Pasangan ini terlibat dalam semacam debat filosofis, dengan long shot dua orang yang siluetnya berlatar jendela yang disinari cahaya fluorescent dari luar, di mana Johnny memberi ceramah ke Brian soal makna barcode, Chernobyl, kiamat, dan banyak hal lainnya</cite>. Ironisnya, di akhir pertemuan itu, si satpam justru yang ngasih nasihat ke Johnny: jangan sia-siain hidup lo. Sebuah kalimat sederhana yang justru jadi kontras paling menyayat dari segala kerumitan filosofis yang Johnny lontarkan sepanjang malam.
Pada akhirnya, Naked ngingetin kita bahwa absurditas hidup bukan sesuatu yang harus buru-buru kita selesaikan atau kita hindari. Kayak yang Cioran percaya, kesadaran akan kehampaan itu sendiri adalah bagian dari jadi manusia. Johnny mungkin karakter yang nyebelin, kasar, bahkan jahat ke orang-orang di sekitarnya, tapi dia juga cermin buat kegelisahan yang sebenarnya kita semua rasain, cuma kita lebih pinter nyembunyiinnya di balik rutinitas dan basa-basi sehari-hari.
Referensi:
• Philosophize This!, "Episode 155 - Emil Cioran Pt. 1 - Absurdity and Nothingness"
• Hothouse Lit Journal, "Pushing the Boulder: Existential Absurdism in Film"
• Academia.edu, "Affective Nihilism and the Morality of Law in Cinema: Johnny as Tragic Figure in Mike Leigh's Naked"
• True Myth Media, review of Naked (1993)
• Take One Magazine, "In Retrospect: Naked"
• Louder Than War, "Naked - film review"


Komentar (0)