← Kembali ke Beranda Literaism Film

Film "Hokum" (2026) dan Psikologi Trauma

Muhammad Rendy Hidayat
WhatsApp Facebook

Muhammad Rendy Hidayat. (2026). Film "Hokum" (2026) dan Psikologi Trauma. Literaism. https://literaism.my.id/artikel/post1783395674768

Film "Hokum" (2026) dan Psikologi Trauma

Gue baru aja nonton "Hokum", film horor supranatural garapan Damian McCarthy yang tayang Mei 2026, dan yang bikin gue terpaku bukan cuma jump scare-nya, tapi gimana filmnya diam-diam ngebahas satu hal yang jauh lebih menakutkan dari hantu, yaitu trauma masa kecil yang nggak pernah sembuh. Film ini emang dibungkus horor rumah hantu klasik, tapi begitu lo cerna baik-baik ya, "Hokum" sebenarnya cerita tentang gimana rasa bersalah bisa mengunci seseorang dalam penjara psikologisnya sendiri selama bertahun-tahun.

Sinopsis Singkat

Cerita berpusat pada Ohm Bauman, penulis novel terkenal yang lagi kesulitan menyelesaikan bagian akhir trilogi "Conquistador"-nya. Setelah melihat penampakan arwah ibunya di rumah dan makin terjerumus dalam minuman keras, Ohm memutuskan mengunjungi Bilberry Woods Hotel di pedesaan Irlandia, tempat orang tuanya dulu berbulan madu, buat menaburkan abu jenazah keduanya sekaligus mencari ketenangan batin. Di hotel itu, dia ketemu berbagai karakter, mulai dari bartender bernama Fiona, bellboy bernama Alby, sampai gelandangan bernama Jerry yang tinggal di van dekat hotel.

Situasi berubah mencekam ketika Fiona tiba-tiba menghilang setelah pesta Halloween, dan semua orang percaya dia terjebak di kamar pengantin yang konon dihuni penyihir bernama Cailleach. Ohm yang awalnya skeptis akhirnya terseret masuk ke penyelidikan itu, sekaligus dipaksa menghadapi kenangan paling gelap dalam hidupnya sendiri, yaitu kenyataan bahwa dia secara nggak sengaja menembak ibunya sendiri waktu masih kecil pakai pistol milik ayahnya, dan ayahnya yang nggak pernah bisa memaafkannya akhirnya minum-minum sampai dia meninggal.

Trauma Masa Kecil yang Membentuk Cara Pandang Hidup

Yang bikin film ini terasa jauh lebih dalam dari sekadar cerita hantu, sinisme Ohm sebagai orang dewasa ternyata produk langsung dari satu momen tragis di masa kecilnya. Dia terus-menerus menulis akhir cerita yang suram karena dia benar-benar percaya bahwa hidup ini emang perjalanan yang ujungnya pasti kelam, sebuah keyakinan yang tumbuh dari rasa bersalah dan penolakan yang dia rasakan sejak kecil. Ayahnya yang menyalahkan Ohm atas kematian ibunya justru meninggalkan tugas dasar sebagai orang tua dan berubah jadi pecandu alkohol yang mengabaikannya sepenuhnya.

Pola ini nunjukin gimana trauma masa kecil yang nggak pernah diproses bisa membentuk seluruh cara pandang seseorang terhadap dunia, bahkan cara dia berkarya secara profesional. Ohm nggak cuma kehilangan ibunya, tapi juga kehilangan sosok ayah yang seharusnya membantunya memahami kejadian itu bukan sepenuhnya kesalahannya. Kombinasi rasa bersalah, penolakan orang tua, dan pergumulan kreatif buat menuliskan akhir cerita yang bermakna akhirnya menumpuk jadi beban yang nyaris nggak sanggup dia tanggung sendirian.

Belatedness ala Cathy Caruth: Ketika Trauma Baru "Kejadian" Bertahun-tahun Kemudian

Ada satu teori psikologi trauma yang cocok banget dipakai buat membedah karakter Ohm, yaitu konsep belatedness dan unclaimed experience dari Cathy Caruth, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam trauma studies. Caruth berargumen bahwa trauma sebenarnya bukan cuma soal kejadian buruknya itu sendiri, tapi soal kegagalan pikiran buat memproses kejadian itu secara penuh di saat kejadian berlangsung. Akibatnya, pengalaman traumatis itu tersimpan dalam semacam masa laten, lalu muncul kembali secara terlambat lewat kilas balik, mimpi buruk, atau pengulangan tindakan yang nggak sepenuhnya disadari korbannya.

Konsep ini pas banget buat ngejelasin kenapa Ohm bisa hidup bertahun-tahun tanpa benar-benar "mengalami" trauma penembakan ibunya secara utuh. Peristiwa itu terjadi terlalu cepat dan terlalu mengejutkan buat sepenuhnya dipahami seorang anak kecil, sehingga menurut kerangka Caruth, kejadian itu nggak langsung tersedia buat kesadarannya, sampai akhirnya "memaksakan diri" muncul kembali secara berulang lewat penampakan arwah ibunya, mimpi buruk, dan kebiasaan menulis akhir cerita yang selalu suram. Trauma Ohm, dengan kata lain, baru benar-benar "terjadi" secara psikologis puluhan tahun setelah peristiwa fisiknya berlalu, persis seperti yang Caruth sebut sebagai luka yang nggak bisa disembuhkan semudah luka fisik biasa.

Caruth juga meminjam istilah Freud soal pengulangan atau repetition compulsion, di mana seseorang yang traumanya belum terintegrasi ke memori sadar cenderung mengulang-ulang pola yang sama tanpa benar-benar menyadarinya. Ini kelihatan jelas dari kebiasaan Ohm yang terus-menerus menulis akhir cerita kelam soal kematian dan kegagalan, seolah dia tanpa sadar terus menceritakan ulang lukanya sendiri lewat fiksi, tanpa pernah benar-benar mengintegrasikan pengalaman itu jadi narasi yang utuh dan bisa diterima secara sadar. Baru ketika dia dipaksa turun ke ruang bawah tanah hotel dan berhadapan langsung dengan kenangan itu, proses "mengklaim" pengalaman yang selama ini "unclaimed" akhirnya bisa dimulai, sebuah momen yang secara psikologis jauh lebih penting ketimbang sekadar konfrontasi dengan hantu penyihir.

Sang Penyihir sebagai Metafora Psikologis

Bagian paling menarik dari film ini justru soal bagaimana sosok penyihir yang menghantui hotel itu berfungsi lebih sebagai metafora kematian dan beban masa lalu, ketimbang monster jahat dalam pengertian harfiah. Sang penyihir digambarkan sebagai penjaga dunia bawah yang secara fisik "merantai" korbannya pada kenangan terburuk mereka, sampai mereka berhasil membebaskan diri atau justru terseret makin dalam ke kegelapan. Ini jadi gambaran yang pas banget buat cara kerja trauma yang belum diproses, di mana seseorang bisa terjebak mengulang-ulang luka lama tanpa pernah benar-benar melangkah maju.

Momen paling krusial secara psikologis muncul ketika Ohm turun ke ruang bawah tanah hotel, yang jadi representasi harfiah sekaligus metaforis dari perjalanannya menuju dunia bawah trauma yang selama ini dia tekan. Kehadiran arwah ibunya di titik ini bukan sebagai sosok pendendam, melainkan sebagai perlindungan yang Ohm butuhkan buat bertahan, menandai pergeseran dari menghukum diri sendiri menuju memaafkan diri sendiri. Yang bikin makin dalam, sepanjang film Ohm sempat mengalami percobaan bunuh diri akibat beban gabungan dari kematian ibunya, kehancuran ayahnya, dan tekanan kreatif yang dia rasakan, sebelum akhirnya diselamatkan dan menjalani pemulihan.

Perjalanan Menuju Pengampunan Diri

Pada akhirnya, "Hokum" nggak berhenti di titik keputusasaan. Setelah melewati serangkaian kejadian mencekam dan mengungkap kebenaran di balik hilangnya Fiona, Ohm akhirnya berhasil menuliskan ulang akhir trilogi novelnya jadi jauh lebih penuh harapan, sebuah perubahan kecil yang mencerminkan perubahan besar dalam cara dia memandang hidupnya sendiri. Sutradara McCarthy sendiri menegaskan bahwa meski Ohm belum sepenuhnya "sembuh" dalam artian klinis, dia berhasil memutus siklus rasa bersalah yang udah mengekangnya bertahun-tahun, sebuah langkah penting menuju pengampunan diri yang sebelumnya terasa mustahil.

Yang bikin film ini relate banget secara psikologis, "Hokum" menunjukkan bahwa proses menghadapi trauma jarang berjalan lurus dan bersih. Kadang butuh momen-momen yang benar-benar menakutkan, konfrontasi langsung dengan kenangan yang selama ini dihindari, sebelum seseorang bisa benar-benar melangkah maju.

Film ini jadi pengingat bahwa hantu paling menakutkan yang menghantui kita seringkali bukan datang dari luar, tapi dari kenangan dan rasa bersalah yang kita simpan sendiri di dalam kepala, menunggu untuk akhirnya dihadapi dan dilepaskan.

Komentar (0)

Baca Tulisan Kami Lainnya