Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena healing menjadi bagian dari gaya hidup Generasi Z. Mulai dari berkunjung ke pantai, pegunungan, ruang terbuka hijau, hingga menghabiskan waktu di coffee shop estetik, aktivitas ini semakin populer dan kerap menghiasi media sosial. Pertanyaannya, apakah tren ini lahir dari kebutuhan menjaga kesehatan mental atau sekadar dorongan FOMO (Fear of Missing Out) agar tidak tertinggal dari tren yang sedang berkembang?
Jawabannya tidak sesederhana memilih salah satu. Dalam banyak kasus, keduanya saling berkaitan.
Tekanan Hidup Modern Membuat Gen Z Membutuhkan Ruang Pemulihan

Gen Z tumbuh di era yang penuh dengan arus informasi, persaingan akademik, ketidakpastian pekerjaan, dan tekanan sosial yang berlangsung hampir tanpa henti melalui internet. Kondisi tersebut membuat kebutuhan untuk beristirahat secara mental menjadi semakin penting.
Banyak anak muda mencari tempat yang menawarkan suasana tenang, pemandangan alam, atau lingkungan yang nyaman untuk mengurangi stres. Karena itu, konsep healing bukan sekadar tren, melainkan juga respons terhadap tekanan kehidupan modern yang semakin kompleks.
Kebutuhan ini juga didukung oleh sejumlah temuan penelitian. Studi Societies (2026) tentang digital detox intention pada Generasi Z Indonesia mencatat bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan rata-rata 7 jam 22 menit per hari di internet dan 4 jam 38 menit di ponsel, sementara tingginya paparan informasi dan tuntutan untuk selalu terhubung ikut mendorong kelelahan mental pada anak muda.
Selain itu, systematic review dalam Journal of Affective Disorders (2024) yang menganalisis 182 studi dengan total 1.169.396 partisipan menemukan bahwa penggunaan media sosial yang bermasalah berkaitan dengan depresi, kecemasan, gangguan tidur, dan penurunan kesejahteraan. Temuan ini menunjukkan bahwa keinginan Gen Z untuk mencari tempat yang tenang, nyaman, atau dekat dengan alam tidak hanya dapat dipahami sebagai tren gaya hidup, tetapi juga sebagai bentuk respons terhadap tekanan digital dan mental yang semakin intens.
Media Sosial Mendorong Munculnya FOMO
Di sisi lain, media sosial turut memperkuat fenomena ini. Setiap hari, pengguna disuguhi unggahan teman atau influencer yang sedang menikmati kopi di tempat estetik, berlibur ke alam terbuka, atau bekerja dari coffee shop dengan suasana nyaman.
Paparan tersebut sering menimbulkan perasaan tertinggal jika tidak melakukan hal yang sama. Akibatnya, sebagian orang mengunjungi tempat tertentu bukan karena benar-benar membutuhkan waktu untuk beristirahat, tetapi karena ingin mengikuti tren yang sedang populer. Inilah yang disebut FOMO, yaitu kecemasan ketika merasa tidak ikut merasakan pengalaman yang dinikmati orang lain.
Coffee Shop Bukan Lagi Sekadar Tempat Minum Kopi
Perubahan fungsi coffee shop juga menjadi faktor penting. Saat ini, coffee shop telah berkembang menjadi ruang sosial, tempat bekerja, lokasi belajar, hingga sarana membangun identitas diri.
Bagi banyak Gen Z, coffee shop menawarkan suasana yang mendukung produktivitas sekaligus kenyamanan. Desain interior yang menarik, akses internet, dan lingkungan yang mendukung interaksi sosial membuat coffee shop menjadi pilihan utama untuk menghabiskan waktu. Tidak heran jika secangkir kopi kini tidak hanya dibeli karena rasanya, tetapi juga karena pengalaman yang ditawarkan.
Peran coffee shop sebagai ruang sosial juga terlihat dalam sejumlah penelitian. Studi dalam Jurnal Hospitality dan Pariwisata (2025) menunjukkan bahwa bagi Generasi Z, coffee shop dipandang sebagai ruang produktif, kreatif, dan representatif terhadap gaya hidup modern, sekaligus menghadirkan rasa nyaman, diterima, dan terhubung dengan komunitas. Temuan ini memperkuat bahwa coffee shop tidak lagi sekadar tempat minum kopi, melainkan juga ruang untuk belajar, bekerja, bersosialisasi, dan membangun identitas diri.
Alam Menjadi Pelarian dari Kehidupan Digital

Jika coffee shop menawarkan kenyamanan sosial, maka alam menawarkan ketenangan dalam bentuk yang berbeda. Hal ini didukung oleh sejumlah penelitian yang menunjukkan bahwa berada di lingkungan hijau dapat membantu menurunkan tingkat stres dan memperbaiki suasana hati.
Sebuah systematic review tahun 2020 menemukan bahwa seluruh studi yang mengukur stres fisiologis menunjukkan hubungan terbalik antara paparan alam dan tingkat stres, sedangkan 5 dari 6 studi lain juga mencatat penurunan stres yang dirasakan setelah seseorang terpapar lingkungan alami.
Temuan ini diperkuat oleh studi meta-analisis Nature Cities tahun 2025 yang meninjau 449 penelitian dan 78 eksperimen lapangan, serta menunjukkan bahwa ruang hijau perkotaan seperti taman dan hutan kota berkaitan dengan penurunan suasana hati negatif, termasuk stres, kecemasan, dan depresi, sekaligus meningkatkan kesejahteraan mental.
Bagi Gen Z yang sehari-hari terhubung dengan layar ponsel dan media sosial, berkunjung ke alam menjadi cara untuk memperoleh jeda dari rutinitas digital. Aktivitas seperti mendaki, berkemah, atau sekadar menikmati pemandangan alam memberikan pengalaman yang sulit digantikan oleh dunia virtual. Karena itu, meningkatnya minat terhadap wisata alam tidak selalu bisa dipandang sebagai tren sesaat.
Antara Kebutuhan Mental dan Gaya Hidup
Pada akhirnya, fenomena healing Gen Z merupakan perpaduan antara kebutuhan psikologis dan pengaruh budaya digital. Sebagian orang benar-benar membutuhkan waktu untuk memulihkan energi mental, sementara sebagian lainnya terdorong oleh keinginan untuk tetap relevan dalam lingkungan sosialnya.
Namun, selama aktivitas tersebut memberikan manfaat positif, memperluas relasi, mengurangi stres, dan dilakukan sesuai kemampuan finansial, tren healing tidak perlu dipandang negatif. Yang perlu diwaspadai adalah ketika healing berubah menjadi ajang pembuktian sosial yang justru menambah tekanan baru.
Penutup
Fenomena berburu tempat healing dan coffee shop estetik menunjukkan bahwa Generasi Z sedang mencari keseimbangan di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan. FOMO memang berperan dalam mendorong tren ini, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa kebutuhan menjaga kesehatan mental juga menjadi alasan yang kuat. Tantangannya bukan pada pilihan untuk healing, melainkan bagaimana menjadikan healing sebagai kebutuhan yang sehat, bukan sekadar tuntutan untuk terlihat mengikuti tren.


Komentar (0)