Film ini emang setting-nya stasiun luar angkasa yang ngambang di atas planet bernama Solaris, tapi yang jadi pusat cerita bukan planetnya, melainkan apa yang terjadi di kepala manusia yang kebetulan lagi berada di sana. Tarkovsky sendiri pernah bilang kalau unsur fiksi ilmiah di film ini justru dia anggap terlalu menonjol dan malah jadi gangguan buat apa yang mau dia sampein. Nah, dari situ aja lo udah bisa nebak, film ini sebenarnya lebih cocok dibaca lewat kacamata filsafat eksistensialisme ketimbang genre sci-fi biasa.
Kris Kelvin dan Kebiasaan Manusia Lari dari Tanggung Jawab

Tokoh utama, Kris Kelvin, dikirim ke stasiun Solaris buat nyelidikin kenapa para kru di sana pada berperilaku aneh. Begitu sampai, dia malah dihadapkan sama sesuatu yang jauh lebih personal: bayangan istrinya yang udah meninggal, Hari, tiba-tiba muncul kembali dalam wujud fisik, hasil ciptaan lautan planet itu yang entah gimana caranya bisa membaca isi kepala manusia. Di titik ini, Kris sebenernya lagi berhadapan sama situasi yang persis digambarin Sartre soal bad faith, yaitu kebiasaan manusia menipu diri sendiri buat menghindar dari tanggung jawab atas pilihan hidupnya. Selama ini Kris terus-terusan menghindari rasa bersalah soal kematian Hari, dan lautan Solaris seakan memaksa dia buat akhirnya berhadapan langsung dengan luka yang selama ini dia kubur.
Hari, Pertanyaan tentang Apa Artinya Ada

Bagian paling bikin merinding dari Solaris justru muncul lewat sosok Hari sendiri. Dia bukan manusia asli, cuma replika yang dibentuk lautan dari memori Kris, tapi lama-kelamaan Hari mulai punya kesadaran, mulai ragu sama keberadaannya sendiri, bahkan mempertanyakan apakah dia layak dianggap manusia. Sejumlah pembahasan filsafat soal film ini mengaitkan status Hari dengan gagasan Locke soal memori dan personhood, yang kemudian diperluas oleh Derek Parfit, untuk membahas dasar apa yang bikin Hari bisa atau seharusnya dianggap manusia. Buat eksistensialisme, ini pertanyaan yang inti banget: eksistensi mendahului esensi. Manusia nggak lahir dengan makna yang udah ditentuin, tapi justru membentuk dirinya lewat kesadaran dan pilihan yang dia jalani. Hari, walau lahir dari materi asing, justru menunjukkan proses itu secara telanjang, gimana kesadaran bisa tumbuh bahkan dari sesuatu yang awalnya cuma bayangan kosong.
Lautan Solaris sebagai Wajah dari yang Tak Terpahami
Salah satu elemen paling misterius di film ini adalah si lautan itu sendiri. Dia nggak pernah dikasih penjelasan gamblang, nggak pernah "diselesaikan" secara ilmiah, dan justru disitu letak kekuatannya. Lautan ini berfungsi sebagai metafora untuk pengetahuan yang nggak bisa dipahami, sekaligus tantangan buat pemahaman manusia. Dalam bingkai eksistensialisme, terutama yang deket sama gagasan Camus soal absurditas, manusia emang selalu dihadapkan sama alam semesta yang diam, yang nggak pernah kasih jawaban meski manusia terus nanya. Kru stasiun Solaris berusaha keras mengklasifikasi dan mengontrol interaksi mereka sama lautan itu, tapi upaya itu berujung sia-sia, semacam pengingat bahwa nggak semua hal di semesta ini bisa ditaklukkan lewat metode ilmiah semata.
Rumah, Ingatan, dan Rasa Berada di Dunia
Salah satu adegan paling ikonik adalah ketika Hari, di klimaks cerita, tiba-tiba menempati posisi ibu Kris di rumah masa kecilnya, ruang yang penuh ingatan tentang masa lalu yang udah lama hilang. Tarkovsky memakai penggantian sosok dari masa lalu dengan sosok lain dalam ingatan, seperti relokasi Hari sebagai figur ibu di rumah masa kecil, untuk menunjukkan ketidakpercayaannya pada objektivitas ilmiah sebagai satu-satunya cara memahami realitas. Ini related banget sama konsep Heidegger tentang manusia sebagai makhluk yang selalu "berada di dunia", yang eksistensinya nggak bisa dipisahkan dari ruang, kenangan, dan keterikatan emosional. Rumah dalam Solaris bukan cuma bangunan, tapi representasi dari akar eksistensial manusia, tempat yang selalu dicari kembali walau raganya udah melayang jauh di luar angkasa.
Cinta sebagai Bentuk Tanggung Jawab, Bukan Sekadar Perasaan
Yang bikin Solaris beda dari cerita sci-fi kebanyakan adalah gimana dia memperlakukan cinta bukan sebagai bumbu drama, tapi sebagai inti dari perjalanan eksistensial tokohnya. Tarkovsky pernah nulis kalau tugasnya sebagai sineas adalah membuat penontonnya sadar akan kebutuhan untuk mencintai dan memberikan cintanya, serta sadar bahwa keindahan sedang memanggil dirinya. Kris pada akhirnya harus milih: terus lari dari rasa bersalah dan trauma, atau berdamai dengan masa lalunya lewat cara paling jujur, yaitu menerima ulang kehadiran Hari meski tahu itu bukan manusia dalam arti biasa. Pilihan ini murni eksistensialis: makna hidup Kris nggak datang dari luar, tapi dari keputusan dia sendiri buat menghadapi apa yang selama ini dia hindari.
Kenapa Solaris Masih Kena Sampai Sekarang
Lebih dari lima dekade sejak dirilis, Solaris tetap kena buat penonton zaman sekarang justru karena dia nggak pernah nyoba kasih jawaban gampang. Dia biarin penonton duduk lama sama pertanyaan yang nggak nyaman: apa gunanya menjelajah luar angkasa kalau manusia sendiri belum berani menjelajahi dirinya sendiri? Analisis dari beberapa pengamat film bahkan menyebut Solaris sebagai cerita tentang samudra tak terpahami yang sebenarnya adalah kehidupan kita sendiri, penuh penyesalan dan hantu batin, sekaligus tentang obsesi menjelajah dunia luar sambil menghindari tanggung jawab menjelajah diri sendiri. Itu juga sebabnya film ini lebih pas disebut karya filsafat yang kebetulan berlatar luar angkasa, ketimbang film luar angkasa yang kebetulan filosofis.



Komentar (0)