Ada perasaan yang susah dijelasin tapi hampir semua orang pernah ngalamin: lo ngerasa kayak orang asing di hidup lo sendiri. Bangun pagi, kerja, ketemu orang, ngikutin sistem yang aturannya nggak pernah jelas siapa yang bikin dan di tengah semua itu, lo ngerasa kayak ada jarak antara diri lo dan dunia di sekitar lo. Franz Kafka, penulis asal Praha yang hidup di awal abad ke-20, adalah orang yang paling jago nangkep perasaan ini dan nuangin ke dalam cerita. Dia nggak nulis soal keterasingan secara teoretis, tapi lewat gambaran yang absurd, mengganggu, dan anehnya kerasa familiar. Itu sebabnya sampai sekarang, istilah "Kafkaesque" masih dipakai buat nggambarin situasi yang bikin lo ngerasa terjebak di sistem yang nggak masuk akal tapi tetap harus lo jalanin.
Gregor Samsa dan Tubuh yang Tiba-Tiba Jadi Asing

Contoh paling ikonik dari tema ini ada di novela pendek The Metamorphosis. Gregor Samsa, seorang salesman yang hidupnya dipenuhi rutinitas kerja demi nafkahin keluarga, bangun pagi dan nemuin dirinya udah berubah jadi serangga raksasa. Keluarganya yang tadinya bergantung penuh sama penghasilan Gregor perlahan mulai jijik, lalu benci, dan akhirnya nelantarin dia begitu aja begitu dia nggak lagi berguna secara ekonomi.
Kritikus sering baca The Metamorphosis sebagai cerminan teori keterasingan buruh ala Marx, di mana Gregor jadi simbol pekerja ideal versi kapitalisme industrial orang yang rajin, taat, dan sepenuhnya tunduk sama posisinya dalam mesin sosial yang lebih besar. Begitu tubuhnya berubah dan dia nggak bisa lagi berfungsi sebagai alat produksi, nilainya di mata keluarga dan masyarakat langsung runtuh. Ini yang bikin cerita ini kerasa modern: keterasingan Gregor bukan cuma dari keluarganya, tapi dari masyarakat yang make dia, dari tubuhnya sendiri, bahkan dari rasa identitasnya sebagai manusia.
Birokrasi Tanpa Wajah dalam The Trial

Kalau The Metamorphosis ngomongin keterasingan personal, The Trial (Der Prozess) ngomongin keterasingan yang lebih besar. Hubungan individu sama sistem kekuasaan yang nggak bisa dipahami. Josef K., tokoh utamanya, tiba-tiba ditangkap dan diadili atas kejahatan yang nggak pernah dijelasin ke dia. Nggak ada yang tahu siapa yang nuduh, apa dasarnya, atau gimana cara ngebelain diri secara efektif. Sistem pengadilan yang dihadapin Josef K. digambarkan sebagai labirin birokrasi yang nggak punya pusat jelas, di mana setiap pintu cuma membawa ke pintu lain yang sama membingungkannya.
Kafka nulis novel ini di era ketika birokrasi modern lagi tumbuh pesat, dan dia kayak udah ngeliat lebih dulu gimana sistem administratif bisa jadi begitu besar dan rumit sampai individu jadi kehilangan kendali atas nasibnya sendiri. Lo bisa jadi taat aturan, bisa jadi ikutin prosedur, tapi tetap aja ngerasa kayak nggak punya kuasa apa-apa di depan mesin birokrasi yang jalan sendiri tanpa peduli sama lo sebagai manusia. Ini yang bikin karya Kafka kerasa relevan buat siapa pun yang pernah berurusan sama institusi besar, entah itu perusahaan, rumah sakit, atau sistem hukum yang aturannya kerasa lebih penting dibanding manusia yang harus ngejalaninnya.
Kafkaesque: Ketika Dunia Modern Jadi Mimpi Buruk yang Logis

Istilah "Kafkaesque" lahir justru karena karya-karyanya berhasil ngasih nama buat pengalaman yang sebelumnya nggak punya kosakata jelas. Ini bukan cuma soal cerita yang aneh atau surealis, tapi soal situasi di mana logika internal sistem berjalan sempurna, sementara logika kemanusiaan justru hilang total. Analisis akademis atas karya Kafka sering nyoroti gimana dia berhasil nangkep kegelisahan modern: manusia yang makin terputus dari esensi dirinya sendiri, atau ketika berhadapan sama penindasan sistemik, terputus dari masyarakatnya.
Yang bikin ini beda dari sekadar cerita distopia adalah Kafka nggak butuh dunia fiksi ilmiah yang jauh buat nunjukkin ketakutan ini. Dia cukup pake dunia yang kelihatan biasa aja, kantor, keluarga, pengadilan dan nunjukkin gimana keterasingan itu udah tertanam di struktur kehidupan sehari-hari, bukan di sesuatu yang eksotis atau jauh dari kita. Rasa asing ini muncul justru dari hal-hal yang paling familiar: rumah, pekerjaan, hubungan keluarga.
Kenapa Rasa Asing Kafka Makin Kena di Zaman Sekarang
Seabad lebih setelah karya-karyanya ditulis, tema keterasingan Kafka justru kerasa makin relevan, bukan makin usang. Riset kontemporer atas The Metamorphosis nunjukkin gimana isolasi yang dialami Gregor bisa dibaca sebagai representasi bentuk-bentuk kesepian psikologis dan sosial yang dialami manusia di dunia yang makin mekanis dan individualistis. Di era kerja yang makin terukur lewat produktivitas, sistem digital yang makin rumit, dan hubungan sosial yang makin dimediasi lewat layar, perasaan jadi orang asing di tengah keramaian bukan lagi metafora sastra doang, itu pengalaman harian buat banyak orang.
Referensi:
- Literariness.org, "Analysis of Franz Kafka's Novels"
- IvyPanda, "Alienation in the Modern World: The Metamorphosis by Franz Kafka"
- EBSCO Research Starters, "The Metamorphosis Anticipates Modern Feelings of Alienation"
- Haider, M.T. (2025). "Isolation in the Modern World: A Study in Light of Kafka's the Metamorphosis." Scholars International Journal of Linguistics and Literature
- IJRPR, "Depiction of Alienation Effects and Existential Approach in Kafka's Works"



Komentar (0)